Review Andromax M3Y Smartfren

Sebulan terakhir ini saya sedang mencoba perangkat baru, Mifi dari Smartfren yang bernama Andromax M3Y. Sudah lama saya mengikuti perkembangan teknologi Internet bergerak, mulai dari teknologi CDMA hingga 4G LTE. Tanpa sadar saya juga mengoleksi berbagai macam modem yang bentuknya bervariasi itu, tapi semuanya sama-sama butuh colokan USB untuk mengaktifkan. Tentunya ini masalah, karena perlu driver supaya komputer/laptop bisa mengenali perangkat dan melakukan dial. Bahkan pernah juga bikin tutorial bagaimana supaya Linux bisa melakukan dial dengan modem-modem tersebut, karena waktu itu UI hanya tersedia untuk OS Windows.

Yang saya suka dari Mifi Andromax M3Y ini adalah… Tidak perlu colok ke USB. Iya, ini adalah solusi terbaik di masa ini. Karena berkat perangkat Mifi ini, saya sudah tidak berlangganan paket data Internet di smartphone, kemudian tidak lagi bergantung kepada sinyal wifi gratisan yang sering lemot dan banyak sniffernya itu. Tinggal nyalakan dan tinggalkan, maksudnya tinggal diletakkan di tas ransel saja. Selama sinyalnya masih dapat, maka semua perangkat saya bisa terkoneksi ke Internet.

Metode ini juga bisa menghemat pengeluaran saya untuk akses Internet tiap bulannya. Dulu saya harus menghidupi paket data semua perangkat, kemudian berlangganan akses hotspot supaya bisa bekerja di luar rumah. Tapi sekarang, cukup dengan pulsa IDR 100.000 per bulan, semua perangkat saya bisa online. Kerennya lagi, karena semua perangkat terhubung di perangkat Andromax M3Y ini, maka semua perangkat saya sekarang menjadi 1 network atau 1 LAN, yang memungkinkan untuk saling bertukar data secara cepat.

Bagaimana dengan jangkauan sinyal? Setiap minggu, rute yang saya tempuh adalah Semarang, Jakarta, dan Yogyakarta. Kira-kira per minggu saya melahap lebih dari 800 km menggunakan Kereta Api, dan lokasi yang tidak tercover hanya daerah pantai selepas Kendal, karena posisi rel mepet banget dengan garis pantai Utara. Selebihnya jangkauan sinyal sangat bagus, di Semarang saya sering di daerah Pedurungan, Simpang Lima, hingga ke Selatan ke arah Yogyakarta sinyalnya bagus semua. di Jogja saya tinggal di area Pogung dan dolan hingga arah Gamping juga tidak ada masalah dengan sinyal. Di Jakarta juga begitu, saya sering di Jakarta Pusat dan Jakarta Selatan kualitasnya oke. Tiap nyetir juga mengandalkan Google Maps yang terhubung dengan Andromax M3Y belum pernah mengalami lost signal.

Tentunya semuanya perlu didukung dengan baterai yang bagus. Saya tidak hapal berapa angka mAH-nya, tapi patokannya Andromax M3Y ini tidak sering saya charge. Berangkat dari Semarang jam 23:30 dengan kondisi baterai 70-80% karena seharian dipakai, sampai Gambir jam 04:30, mampir mandi di Istiqlal dulu dan biasanya sampai kantor jam 07:30 status baterai masih 30%. Sangat awet dan cocok untuk traveller macam saya ini. Good job Smartfren.

Mandi Mahal di Stasiun Gambir

Di postingan sebelumnya, saya cerita tidak terasa sudah setahun bekerja di Jakarta, artinya setiap minggunya dipastikan pasti datang dan pergi di Stasiun Gambir. Bagi yang sudah beberapa tahun tidak mampir ke Gambir, pasti akan “pangling”, atau asing dengan penampilannya yang sudah berubah. Stasiun Gambir sudah lebih bersih, rapi, tertata, dan tidak ada lagi pedagang asongan yang biasanya menghiasi stasiun. Keren lah pokoknya.

Dulu, saya tidak mengalami kesulitan untuk mandi di Stasiun Gambir, karena ada toilet umum yang memang menyediakan fasilitas ala kadarnya untuk mandi. Sekarang setelah semuanya dirapikan, maka mandi menjadi masalah serius bagi sebagian warga pendatang, termasuk saya.

Biasanya setiba di Gambir, saya langsung pesan Go-Jek untuk mengantarkan ke Masjid Istiqlal. Kereta Sembrani atau Argo Anggrek Malam datang biasanya menjelang atau pas waktu Subuh, sehingga memungkinkan untuk shalat Subuh kemudian merem sebentar di Istiqlal, baru dilanjutkan numpang mandi disana.

Tips mandi di Istiqlal, lihat rombongan bis di parkiran. Jika masih banyak sebaiknya urungkan dulu niatan mandi, karena pasti masih penuh dan mengantri. Sebaiknya tunggu sekitar jam 6:30-7.00 saat bis-bis mulai melanjutkan perjalanan, disitulah Anda bisa mandi dengan nyaman karena kondisinya sudah mulai sepi. Lebih siang lebih baik, saya pernah mulai mandi jam 7:30 dan bisa memilih kamar mandi yang paling nyaman.

Oke, lanjut ceritanya. Minggu lalu, kereta Argo Anggrek Malam yang saya tumpangi mengalami TasPat (pembatasan kecepatan) mulai dari Stasiun Semarang Tawang hingga Stasiun Gambir, sehingga saya baru sampai di Jakarta pukul 8:30. Ini tentunya masalah, karena jam masuk kantor saya juga mulai jam segitu. Setelah mengabari Pak Manager, saya memutuskan untuk mencoba mandi di Stasiun Gambir, kebetulan saya sudah sering melihat promo di standing bannernya, yaitu di Shower & Locker.

Mungkin ini adalah mandi termahal yang pernah saya lakukan. PT KAI mengerti bahwa penumpang yang datang ke Jakarta kebanyakan adalah karyawan atau orang yang akan berbisnis, pasti mereka butuh untuk mandi atau setidaknya mempersiapkan diri dengan nyaman. Makanya, Shower & Locker ini memang menyasar orang-orang dari kalangan tersebut. Biaya untuk mandi sebesar IDR 85.000 sudah dengan pinjaman handuk. Kamar mandinya standar hotel melati dengan shower air panas dan dingin yang bisa diatur, semburannya kuat, dan bonus suara gemuruh kereta karena posisinya memang pas berada di bawah rel kereta api. Katanya sih dapat kopi, tapi kemarin saya nggak dapat. Mungkin promonya sudah habis. Silakan klik fotonya untuk memperbesar gambar.

Seperti yang saya ceritakan sebelumnya, kereta Argo Anggrek Malam yang saya tumpangi mengalami TasPat, sehingga hampir semua penumpang pasti berpikiran yang sama untuk menggunakan layanan Shower & Locker, alhasil saya mendapatkan nomor antrean 20. Tadinya saya berpikir bakalan menunggu lama, ternyata petugas Shower & Locker berkoordinasi dengan petugas di Hotel Rail Transit Gambir yang lokasinya bersebelahan untuk membuka kamar demi mengurangi waktu tunggu antrean (yang sudah cukup banyak). Kebetulan saya beruntung mendapatkan giliran di kamar hotelnya, bukan di kamar mandinya Shower & Locker. Jadi fotonya sekalian bisa menggambarkan kondisi hotelnya ya. Oh iya, katanya sih fasilitas asli di Shower & Locker tidak jauh berbeda dengan hotelnya karena memang mereka masih satu manajemen.

Menurut saya, dengan tarif IDR 85.000 per orang memang sangat mahal. Tapi dengan kondisi yang tidak ada pilihan lain, maka sepertinya ini adalah cara terbaik untuk dapat membersihkan diri dengan cepat supaya bisa mengejar waktu. Karena di Jakarta, waktu adalah sesuatu yang berharga, dan PT KAI mengerti itu. Info tambahan, Shower & Locker ini buka 24 jam.

Sukses Itu Mencari Pengalaman

Wah, ndak terasa saya sudah hampir setahun bekerja di Jakarta, kota yang memberikan banyak sekali kesempatan, tinggal bagaimana kita melihatnya. Kemudian jadi ingat pas awal-awal bekerja setahun yang lalu, cukup banyak cerita yang jika diingat membuat saya menjadi semakin bersyukur karena berani mengambil keputusan ini dan keluar dari zona nyaman yang sudah bersama saya selama lima tahun terakhir.

Tidak, saya tidak meninggalkan profesi saya sebagai Dosen. KTP saya juga masih tertulis Dosen, cuma berubah dikit aja, tidak banyak, dan tidak penting buat diceritakan.

Oke, dalam setahun ini saya sudah berpindah lokasi kerja satu kali. Tadinya saya berkantor di sebuah digital agency di daerah Jakarta Selatan, sekarang saya dimutasi ke sister company di daerah Jakarta Pusat. Lebih dekat dengan Gambir, tapi sayangnya nggak bisa tidur di kantor lagi hahaha. Kemudian saya pernah “menolak” sebuah tawaran pekerjaan dengan tawaran yang sangat menggiurkan, namun setelah berkonsultasi dan mempertimbangkan berbagai hal, dengan berat hati saya harus menolak tawaran itu. Mungkin suatu saat saya akan menyesal, tapi saya masih yakin dengan pilihan saya.

Bekerja di Jakarta tanpa sadar membuat saya sedikit berubah, namun dalam arti yang positif. Saya jadi lebih berani dan cepat mengambil keputusan, suatu hal yang dulu tidak mungkin saya lakukan. Saya juga lebih berani untuk mengutarakan pendapat, karena jika tidak begitu bakalan tertindas hahaha. Selain itu jadi lebih merasakan kemajuan teknologi, peliknya masalah, dan tertantang untuk memberikan solusi yang level kesulitannya berkali-kali lipat saat di Semarang dengan kualitas yang berkali-kali lipat juga.

Saya jadi mengerti kenapa selisih gaji atau nilai kontrak di Jakarta dengan di Semarang itu sangat jauh berbeda. Di Jakarta tidak ada yang namanya kualitas pas-pasan atau toleransi tinggi, karena kita selalu mendapatkan ekspetasi yang sangat tinggi dari orang lain. Masing-masing sudah harus paham dengan kewajiban masing-masing baru nanti akan mendapatkan hak yang sudah dijanjikan. Menghargai janji dan waktu dengan orang lain adalah kunci utama, karena semua orang sibuk. Ketika kita mendapatkan sebuah kesempatan, tidak boleh dilewatkan.

Sisi positifnya, pikiran saya menjadi lebih terbuka dan pengetahuan menjadi semakin mendalam. Tadinya mungkin saya hanya tau kulitnya saja, tapi sekarang sudah jauh lebih paham dengan konsep dasarnya. Alhamdulillah tahun ini sudah ikut dua kali international conference.

Saya masih punya waktu hingga Febuari 2017 untuk mencari pengalaman disini. Mudah-mudahan cukup bekal untuk nantinya dibagikan ke mahasiswa, supaya mereka tau dan bisa mempersiapkan diri untuk menghadapai persaingan di bidang IT. Bagaimana selanjutnya? Tentunya masih jadi Dosen, tergantung nanti penawarannya bagaimana hahaha…

Memperpanjang Umur MacBook Pro MD101

Seperti yang sudah saya ceritakan di postingan sebelumnya bahwa saya membeli MacBook Pro MD101 second kelahiran mid 2012, maka untuk menunjang kinerja dan kompatibilitas dengan teknologi terbaru, saya merasa perlu untuk melakukan upgrade terhadap MD101 ini. Apalagi MD101 ini telah diinstall dengan Mac OS X El Capitan, dimana beberapa forum menyarankan untuk segera upgrade harddisk bawaan menjadi SSD kemudian diikuti dengan menambah jumlah RAM bawaan yang tadinya hanya 4 GB saja supaya kinerja MD101 dapat lebih optimal.

Kebetulan anggaran yang saya sediakan masih cukup untuk membeli kedua perangkat tadi, jadi tidak butuh waktu lama, saya sudah mendapatkan barang-barangnya langsung dari Tokopedia. Saya membeli RAM merk Corsair dengan kapasitas 16 GB (2 x8 GB) kemudian membeli SSD Samsung Evo 850 dengan kapasitas 250 GB. Total harga untuk keduanya sekitar 2,2 juta rupiah sudah termasuk ongkos kirim yang ditanggung oleh Tokopedia (pas ada promo free ongkir).

Masalah selanjutnya adalah pemasangan, saya sudah terbiasa membongkar CPU dan laptop dari semenjak masih kuliah. Tapi untuk perangkat Mac, saya baru bisa memegangnya sekarang, artinya pengalaman saya terhadap perangkat ini sama sekali newbie. Untunglah sekarang YouTube sudah mudah diakses, karena dari situlah saya belajar untuk membongkar perangkat Mac, terutama untuk MD101. Dari hasil pencarian dan menonton di beberapa tutorial sejenis, saya menyimpulkan bahwa membongkar MacBook Pro MD101 tidak terlalu sulit.

Saatnya praktek…

Seperti tutorial yang telah saya tonton, ada urutan untuk membuka 10 mur di bagian bawah MD101, karena dari 10 mur tersebut, ada 3 mur yang bentuknya lebih panjang daripada yang lain. Lokasinya yang dekat dengan engsel, sehingga saya perlu memastikan mur-mur tersebut tidak tertukar atau hilang. Ketika proses pelepasan mur selesai, saya tinggal membuka penutupnya saja dengan mudah. Kesan pertama saya melihat interior MD101 adalah… kagum.

 

Apple benar-benar merancang semua produknya dengan detil, tidak terkecuali di MD101 ini. Dengan mudah saya mengurutkan kabel, tuas, dan mur untuk melepas RAM dan Harddisk bawaan untuk kemudian ditukar dengan RAM dan SSD yang baru. Prosesnya sangat mudah, bahkan menurut saya dapat dilakukan oleh pengguna awam sekalipun. Mungkin cuma masalah keberanian saja yang membuat pengguna Mac lebih memilih membayar ke service center untuk menambah perangkat, atau alasan lain lebih suka memanfaatkan garansi produk.

Saya tidak cerita mengenai detil pemasangan, karena tutorialnya sudah banyak tersedia di YouTube. yang jelas, saya hanya membutuhkan waktu 15 menit dari awal membuka mur hingga MD101 bisa dinyalakan kembali. Sangat cepat dan mudah.

Oh iya sebelum memasang harddisk, saya melakukan cloning data dari harddisk lama ke SSD. Prosesnya cukup menyambungkan SSD melalui kabel USB ke Mac kemudian menjalankan aplikasi Carbon Copy Cloner. Karena isi file saya hanya 28 GB, maka proses yang dibutuhkan sangat cepat, tidak lebih dari 30 menit saja. Untuk penyambungan SSD ke Mac, saya menggunakan HDD Enclosure, tapi jika ingin menggunakan alat lain sih bisa saja.

Kesimpulannya, dari sekian banyak perangkat yang pernah saya bongkar-pasang. Perangkat Mac merupakan yang terbaik dan termudah. Sekarang kinerja MD101 saya rasa bisa bersaing dengan perangkat MacBook Pro keluaran terbaru deh.

 

New Gear, MacBook Pro MD101

Ceritanya saya barusan beli laptop untuk menunjang pekerjaan sehari-hari, kali ini mau ikut-ikutan jadi fanboy Apple dengan membeli MacBook Pro MD101. Alasannya sederhana, selama saya ngantor di Jakarta ternyata disana cukup banyak pengguna perangkat Mac, dan pengetahuan saya tentang perangkat Mac bisa dibilang tidak ada. Jadi misalnya ada pertanyaan atau pekerjaan yang berhubungan dengan Mac tentu saja saya nggak bisa menyesuaikan diri.

Di saat yang bersamaan, laptop saya Asus N43SL mulai menunjukkan tanda-tanda penuaan. Misalnya terkadang dvd drive suka membuka sendiri tanpa diperintah, laptop jadi cepet panas padahal sudah beberapa kali dibersihkan, kemudian beberapa port seperti HDMI dan VGA mulai menunjukkan kelelahan untuk dapat melayani saya selama 5 tahun terakhir ini. Padahal laptop Asus itu sudah saya upgrade dengan RAM 8 GB dan SSD drive, ternyata penuaan tetap tidak bisa dilawan.

Akhirnya, setelah berkonsultasi dengan Betemen Loenpia dan teman di kantor, saya memutuskan untuk mencoba beralih ke perangkat Mac. Pertimbangannya, Mac dapat mendukung kebutuhan saya seperti presentasi, mengetik, web development, dan sys-admin. Sebelumnya saya sudah pernah mencoba pakai MacBook teman dan memang merasakan bahwa perangkat ini bisa mendukung pekerjaan saya.

Eh jadi ingat, di awal tahun 2008 saya pernah bercita-cita ingin membeli MacBook Pro tapi waktu itu belum punya uang yang cukup. Tapi waktu itu saya yakin bahwa suatu hari saya akan mampu membeli perangkat itu. Mungkin ini pertanda dan inilah saatnya.

Dari hasil konsultasi sebelumnya, ternyata saya tidak perlu membeli perangkat MacBook Pro yang baru, apalagi dengan yang Retina Display. Saya membutuhkan MacBook yang “upgradable”, sedangkan perangkat MacBook keluaran 2013 hingga sekarang sudah tidak dapat diupgrade. Setelah berselancar di berbagai tempat, saya mendapat kesimpulan bahwa MacBook Pro keluaran mid 2012 dengan seri MD101 merupakan generasi terbaik karena sudah dibekali Intel Prosesor i5 generasi 3, RAM dapat diupgrade hingga 16 GB, dan Harddisk dapat diupgrade menggunakan SSD drive. Ukuran layar yang 13 inchi juga pas untuk kebutuhan saya. Masalah bobotnya yang termasuk berat, menurut saya tidak masalah karena ternyata masih lebih berat Asus N43SL.

Masalah berikutnya adalah pencarian barang, ini karena saya mencari barang second tapi tentunya ingin kualitas yang masih bagus. Meskipun sudah banyak marketplace berdiri, saya tetap kembali ke selera asal, yaitu KasKus. Disanalah akhirnya saya menemukan penjual yang memiliki MD101 dengan kualitas 96% dengan penyok minor yang ternyata nggak keliatan. Harga yang ditawarkan juga oke, setelah negosiasi saya bisa mendapatkan dengan harga 8 juta rupiah saja. Uniknya, penjual ini menawarkan menggunakan layanan Tokopedia untuk memanfaatkan layanan cicilan 0%, wah boleh juga tuh. Sistem escrow yang dimiliki Tokopedia juga melindungi saya dari penipuan karena dana baru bisa diteruskan ke penjual ketika barang sudah sampai ke tangan. Jadilah saya membeli MacBook Pro MD101 dengan cicilan 0% dari Tokopedia hahaha.

Bagaimana dengan nasib Asus? Sekarang dia pensiun dan gantian melayani Bale Bandeng di rumah sebagai laptop operasional. Dia sudah tidak perlu mengikuti saya bolak-balik Semarang-Jakarta tiap minggunya, semoga sudah jadi lebih tenang.

Selamat Hari Pendidikan Nasional 2016

Sebagai salah satu civitas akademika di Universitas, saya ucapkan Selamat Hari Pendidikan Nasional 2016. Mudah-mudahan saya terus diberi kekuatan untuk dapat memberikan manfaat bagi mahasiswa dan masyarakat. Hari Pendidikan Nasional ini juga bertepatan dengan Hari Ulang Tahun Kota Semarang ke-468, usia yang sudah sepuh dan berumur, semoga Kota Semarang bisa menjadi panutan kota-kota sekitarnya di Jawa Tengah.

Tahun ini, saya memperingati hari Pendidikan Nasional tidak dengan ikut upacara di kampus, karena tahun ini saya peringati semangat pendidikan di hati.. *halah*

Mendidik harus dimulai dari hati. Karena dari hati, ilmu yang akan ditransfer akan lebih berkualitas. Jangan sampai mengajarkan ilmu dengan keliru, usang, dan tidak tepat. Pengajar yang baik harus bermula dari keyakinan bahwa ilmu yang akan diberikan akan membuat ilmu itu semakin berkembang. Pengajar yang baik juga harus yakin bahwa siapapun yang menerimanya akan memiliki manfaat dari ilmu itu.

Alhamdulillah saya merasa mendapatkan banyak pelajaran selama bekerja di Jakarta, mata semakin terbuka bahwa kesenjangan antara teknologi dan kebutuhan masyarakat masih begitu lebarnya. Disinilah peran pendidik untuk menyiapkan generasi selanjutnya supaya dapat menjembatani kebutuhan itu. Kemampuan saya semakin ditempa dengan keras bahwa sesungguhnya yang saya kuasai sekarang tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan kota besar seperti Jakarta. Disinilah peran pendidik untuk menyiapkan calon wisudawan supaya dapat bersaing dengan industri global.

Selain itu, saya semakin belajar untuk toleransi dan berbesar hati. Cukuplah sudah dengan semua drama di awal tahun ini, cukuplah dengan semua prasangka yang bermunculan selama ini, ternyata hanya dengan mengabaikan dan menyalurkan energi ke hal lain, malah bisa membuat saya menjadi lebih kreatif dari sebelumnya.

Jangan hanya kejar materi, karena nanti hanya akan mendapatkan materi saja. Kejarlah ilmu yang tinggi, kemudian bagikan ilmu itu. Nanti materi akan mengikuti beserta hati yang damai.

Berbagi Tak Pernah Rugi

Membuat Verified Facebook Page Bale Bandeng

Facebook Page ternyata bisa diberi label verified dengan tanda centang berwarna abu-abu di samping namanya. Saya taunya juga tidak sengaja sewaktu membuka menu settings di Facebook Page Bale Bandeng, disitu saya melihat ada tulisan bahwa Page is not verified. Ketika saya klik, muncul informasi bagaimana cara supaya FB Page dapat terverifikasi, cara termudah adalah dengan memasukkan nomor telp yang akan dihubungi oleh Facebook untuk dibacakan 4 angka unik. Nantinya keempat angka tersebut tinggal dimasukkan ke dalam kolom yang tersedia. Langsung saja, saya masukkan nomor hp untuk memulai proses verifikasi. Dalam beberapa detik hp berbunyi, kemudian ada robot yang membacakan angka, saya masukkan nomor itu, hasilnya.. Gagal.

Saya bingung, padahal jelas-jelas Facebook sudah menghubungi hp dan membacakan 4 angka unik. Namun ketika saya masukkan angka tersebut, Facebook tidak dapat untuk melakukan verifikasi terhadap nomor saya yang terhubung dengan Facebook Page Bale Bandeng. Saya sudah mencoba berkali-kali bahkan berbeda waktu, namun hasilnya tetap sama. Gagal. Facebook memberikan saran supaya saya mengirimkan scan dokumen sebagai alternatif proses verifikasi, tapi saya nggak mau. Saya belum percaya untuk memberikan dokumen resmi ke perusahaan iklan.

Apa sih keuntungan dengan verifikasi Facebook Page? Katanya sih nantinya Facebook Page akan lebih terpercaya di mata pengunjung. Selain itu, katanya Facebook Page kita akan mendapatkan prioritas untuk muncul di hasil pencarian yang dilakukan oleh pengunjung. Hal inilah yang menjadikan saya untuk lebih mencari tahu bagaimana supaya Facebook Page Bale Bandeng dapat terverifikasi, tanpa harus mengirimkan dokumen.

Akhirnya, saya menyadari bahwa Facebook juga tidak mengirimkan dokumen apapun untuk proses verifikasi. Berbeda dengan Google yang repot-repot mengirimkan kartupos untuk proses validasi. Pasti ada yang salah dengan cara saya sebelumnya, kemudian saya mengulang proses verifikasi lagi namun kali ini nomor telp rumah yang saya masukkan. Beberapa detik kemudian telp rumah berdering, robot Facebook membacakan angka, lalu saya masukkan angka tersebut ke kolom yang tersedia. Hasilnya, Sukses! Facebook Page Bale Bandeng is verified!

Rupanya untuk melakukan verifikasi Facebook Page, harus memasukkan nomor telp rumah. Saya tidak membaca persyaratan ini di halaman bantuan Facebook, sehingga mau dicoba berkali-kali juga nggak akan bisa jika yang saya masukkan adalah nomor hp. Mudah-mudahan ini bisa membantu bagi yang tertarik untuk melakukan verifikasi pada Facebook Page.

Bagaimana dengan yang tidak punya nomor telp rumah?

Seperti yang tadi saya bilang, karena saya tidak menemukan aturan ini di halaman bantuan Facebook maka saya tidak tau jawabannya juga. Tapi mungkin bisa coba untuk memanfaatkan layanan EsiaTalk untuk mendapatkan nomor virtual dengan kode area, lalu gunakan nomor itu untuk proses verifikasi. Saya belum coba, tapi sepertinya layak untuk dicoba.

Strategi Promosi Digital Untuk Bale Bandeng

Ceritanya kami sekeluarga sedang membangun bisnis keluarga, awalnya hanya untuk iseng-iseng mengisi waktu orang tua yang sudah pensiun, tapi setelah dipertimbangkan lagi, kenapa nggak diseriusin saja? Apalagi Pemerintah sedang mendukung pertumbuhan UMKM di masyarakat. Akhirnya, mulai akhir tahun 2015 lalu, kami mulai melakukan serangkaian percobaan menu dengan berbagai varian yang kemudian mengerucut pada satu konsep, yakni fokus di Bandeng Cabut Duri yang diberi nama Bale Bandeng.

Kenapa fokus di ikan? alasannya sederhana, orang tua adalah “alumni” atau pensiunan dari Dinas Perikanan Provinsi Jawa Tengah dan Badan Penelitian & Pengembangan (Balitbang) Jawa Tengah, adek seorang Dokter Hewan, dan saya dosen sekaligus praktisi IT. Kombinasi ini bisa menjadi jaminan kualitas produk dan nilai jual tentunya. Saya dan adek juga sudah berbisnis sejak bertahun-tahun lalu, sehingga untuk pengalaman berjualan sudah bisa dijadikan pedoman untuk membangun bisnis keluarga ini.

Strategi Digital Campaign

Oke, saya mau cerita yang sudah saya lakukan. Berhubung saya nggak berurusan dengan dapur, maka saya mengurusi untuk sisi pemasaran dan penjualan. Promosi digital adalah pilihan pertama karena budget yang terbatas, maklum masih UMKM.

Website

Domain langsung saya beli sesuai dengan nama Bale Bandeng, yakni balebandeng.com. Hosting saya letakkan di server yang selama ini saya pegang, jadinya mendapatkan performa yang bagus. Template juga saya gunakan yang premium, sama dengan yang biasa saya gunakan untuk mengerjakan project web selama ini. Untuk urusan web adalah hal mudah, karena memang sudah terbiasa dalam pembuatan website.

Social Media

Akun social media langsung saya akusisi supaya nantinya inline/bersinergi dengan layanan digital yang lain. Kami menggunakan akun @BaleBandeng di Twitter dan Instagram. Kemudian juga membuat Facebook Pages dengan nama yang sama. Konten masih saya isi sendiri dengan meniru manajemen akun social media ala digital agency.

Verified Business

Berhubung Bale Bandeng menjual produk tapi kami belum sanggup jika harus menyewa tempat jualan, maka kami putuskan untuk berjualan di rumah dengan mengandalkan armada Go-Jek untuk mengantar pesanan, nah tapi saya pengen supaya lokasi jualan mudah dicari dan dikenali oleh calon pelanggan. Jadinya saya mendaftarkan Bale Bandeng ke Google Business dan Foursquare for Business supaya merk Bale Bandeng muncul di Google Maps dan Swarm/Foursquare.

Proses verifikasi ini sebenarnya sangat mudah, karena hanya mengisi form secara lengkap dan mengunggah foto. Yang membedakan proses verifikasinya, dimana Google akan mengirimkan postcard yang berisi kode dan harus dimasukkan ke dashboard Google. Kemudian Foursquare meminta untuk membayar USD 20 untuk claim lokasi sekaligus verifikasi bisnis. Google butuh waktu 3 hari untuk menunggu kiriman postcard, sedangkan Foursquare konfirmasi instan setelah pembayaran dinyatakan berhasil.

Alasan saya repot-repot mendaftarkan supaya menjadi verified business karena aplikasi yang menerapkan LBS (Location Based Services) seperti Go-Jek, Path, Swarm, Instagram, atau apapun yang ada fitur check-in, akan mengambil data dari Google dan Foursquare. Sehingga jika Bale Bandeng telah terdaftar disana, maka siapapun akan langsung bisa mencari dan melihat Bale Bandeng sebagai salah satu lokasi disitu hehehe.

Saat ini saya sedang menjajaki kerjasama dengan Go-Food, saya sudah dikirimi proposal oleh perwakilan Go-Jek Semarang untuk dipelajari dulu. Sistemnya bagi hasil sebesar 15 : 85, dimana saya nantinya setiap akhir bulan akan transfer ke rekening Go-Food sebesar 15% dari total transaksi yang dihasilkan dari Go-Food. Kami sedang pelajari skema ini apakah cocok untuk diterapkan ke Bale Bandeng.

Facebook Ads

Sudah 4 hari ini saya menjalankan Facebook Ads untuk Facebook Page Bale Bandeng. Tujuannya hanya Local Awareness saja, jadi saya nggak pasang target muluk-muluk yang bisa sampai konversi ke sales, yang penting pengguna Facebook di sekitar rumah bisa tau bahwa Bale Bandeng ada. Yang saya suka dari Facebook Ads adalah sistem targetting yang mudah untuk dikonfigurasi.

Saat ini saya set supaya iklan hanya muncul bagi pengguna wanita, usia antara 23-55 tahun, dan berlokasi maksimal 5 mil dari Bale Bandeng. Hasilnya sampai hari ini (29 Maret 2016) sudah dapat 8.227 impression dengan biaya hanya Rp. 38.000 saja. Pilihan iklan yang menarik dibandingkan saya harus memasang iklan di billboard. Mungkin nanti saya akan pasang iklan di billboard atau sebar flyer, tapi itu nanti, bukan sekarang.

Akhirnya, itulah yang sedang saya lakukan untuk membangun Bale Bandeng. Prosesnya masih sangat panjang, tapi setidaknya kami sekeluarga melakukannya dengan benar dan sesuai dengan keahlian masing-masing. Kami yakin, bahwa selama ada passion untuk bekerja, maka pasti hasil yang disajikan akan optimal. Setidaknya itu standar Bale Bandeng, dimana kami sudah atur standar yang sangat tinggi untuk setiap produk yang kami hasilkan.

 

Lagi Trend : Playing The Victim

Victim playing (also known as playing the victim or self-victimization) is the fabrication of victimhood for a variety of reasons such as to justify abuse of others, to manipulate others, a coping strategy or attention seeking. Where a person is known for regular victim playing, the person may be referred to as a professional victim. – Wikipedia.

Akhirnya saya menemukan istilah “Playing the Victim” setelah sekian lama gemes dengan beberapa artikel berita yang saya baca. Misalnya yang terbaru, tentang Walikota Bandung Pak Ridwan Kamil yang dilaporkan ke pihak berwajib oleh sopir omprengan yang membandel, gara-gara sopir itu mengaku dianiaya (ditampar) ketika Ridwan Kamil memergoki sopir tersebut sedang mengangkut penumpang di area terlarang. – Detik.

Masih banyak kasus serupa, bermula dari satu pihak yang melakukan pelanggaran kemudian ada pihak yang menegur atau menindak namun proses penindakannya dianggap tidak sopan, ujungnya adalah pihak yang bersalah itu malah melaporkan pihak penindak dengan tuduhan penganiayaan atau yang paling bikin saya gemes, dituntut karena perbuatan tidak menyenangkan.

Oke, kamu itu salah, kemudian kamu dihukum. Terimalah kesalahanmu itu, mengenai proses penindakan yang tidak enak ya anggap saja dari buah kesalahanmu. Menghukum seseorang dengan baik-baik, nggak akan bikin kapok. Yang ada malah ngelunjak trus besok diulangi lagi. Kapok adalah kondisi ketika orang harus membayar kesalahannya sampai tidak mau mengulang lagi. Pelajaran menuju kapok itu biasanya berat dan keras.

Lha kalo cuma dielus-elus, kapan kapoknya?

Jika pihak yang bersalah masih dibawah umur, boleh ada pengecualian. Tapi dari yang sering saya lihat, justru pelaku playing the victim ini malah orang dewasa, berpendidikan, dan berduit karena mampu untuk menyewa pengacara. Daripada repot-repot ngurusin hati yang terluka karena ditindak, kenapa nggak memperbaiki hati dengan menerima bahwa itulah resiko yang harus diterima. Terimalah seperti orang dewasa. Jika masih nggak terima, bayar dulu kesalahanmu baru lakukan yang perlu dilakukan.

Bukan maksud membandingkan, dulu saya sering dihukum guru. Hukumannya pun beragam, kalo hanya berdiri di depan kelas saya anggap hanya piknik dan pindah duduk. Apakah bikin kapok? Tentu tidak, karena cuma berdiri dan cengengesan di depan, paling kakinya pegel aja. Tapi ketika dihukum dengan ditempeleng gara-gara berantem dengan teman, saya langsung kapok berantem. Bukan karena berantem itu nggak baik, tapi serem ketika kami berdua ditempeleng oleh pak guru yang killer itu. Akhirnya sekarang malah saya berkawan dengan yang teman yang berantem itu, dan hampir tidak pernah terlibat dalam perkelahian karena langsung teringat rasanya.

Apakah saya mengadu ke orang tua? Nggak dong, jika iya, maka saya sama saja playing the victim. Saya merasa salah dengan berkelahi jadinya saya anggap hukuman itu setimpal buat saya. Lagipula, jaman dulu kalo ditempeleng guru trus malah lapor ortu, justru malah ditambahin sama ortu! hahahaha…

Efeknya baik buat saya, yakni tidak dengan mudah menyalahkan orang lain atau menyalahkan situasi jika saya melakukan kesalahan atau mengalami masalah. Buat saya, kesalahan di masa muda itu penting, justru sebaiknya seringlah melakukan kesalahan supaya bisa belajar dari kesalahan itu. Saya sering mengamati mahasiswa yang pandai membuat alasan ketika posisi terjepit, padahal menurut saya itu hanya mengulur waktu saja.

Hadapi dan selesaikan apa yang telah kau mulai.

 

Ketika Offline Menggugat Online

Tidak ada perubahan yang akan menyenangkan, setidaknya itu salah satu pelajaran yang sudah saya alami hingga sekarang. Maka ketika saya mulai terbiasa dengan sebuah kebiasaan, biasanya malah mulai ancang-ancang untuk mencari sesuatu yang baru. Jika tidak, kreatifitas akan pudar, pikiran mulai tumpul, semangat mulai luntur, kemudian akhirnya akan tersadar bahwa ternyata telah tertinggal langkah.

Sebagai warga pendatang ibukota, tantangan terbesar saya sewaktu awal bekerja disini adalah masalah transportasi. Saya tidak hapal jalan dan rute apalagi tarifnya. Bayangan seram lalu-lintas Jakarta sudah membayang beberapa minggu sebelum saya memutuskan untuk berangkat. Ketakutan itu berubah menjadi kenyataan ketika sadar telah tertipu tarif taksi gelap bandara Halim Perdanakusuma di awal kedatangan saya. Waktu itu sehabis landing, saya langsung keluar terminal kedatangan dan clingak-clinguk. Alhasil langsung disamperin sama orang yang menawarkan jasa antar ke kantor. Tanpa pikir panjang langsung mengiyakan saja dengan tarif IDR 200.000.

Apakah mahal? Awalnya saya pikir murah, karena melihat kondisi jalanan yang luar biasa macet. Ternyata saya keliru, setelah ngobrol dengan teman ternyata dapat informasi bahwa tarif taksi resmi akan berkisar IDR 100.000 saja, hanya separuh dari biaya yang saya keluarkan. Pengalaman pertama yang tidak berkesan.

Belajar dari pengalaman itu, saya mulai untuk mencari moda transportasi alternatif. Mulai baca review orang-orang, install beberapa aplikasi di smartphone, hingga akhirnya sekarang saya punya transportasi andalan selama di Jakarta.

Uber

Saya langsung memesan Uber pada kedatangan kedua saya di Jakarta. Saya tidak ingin membayar IDR 200.000 lagi kepada supir taksi gelap. Triknya, ketika sampai di terminal kedatangan langsung buka aplikasi Uber dan pesan untuk diantar menuju kantor. Uber memberikan informasi lengkap dengan navigasi yang mudah. Saya bisa mengetahui estimasi tarif yang akan saya bayarkan beserta data diri pengemudi yang nantinya akan menjemput.

Proses penjemputan juga unik, karena saya cukup berpura-pura sedang dijemput oleh keluarga, teman, atau supir pribadi. Jadi tinggal menunggu jemputan dengan tenang karena posisi mobil akan termonitor di layar. Ketika datang juga langsung masuk, ucapkan salam, sebutkan tujuan, dan duduk nyaman. Perjalanan biasanya terasa nyaman karena mobil yang bagus dan pengemudi yang ramah. Setelah sampai kita juga langsung turun tanpa harus membayar dengan cash, karena pembayaran akan langsung didebet dari kartu kredit. Cukup bilang terima kasih kepada pak supir yang sudah mengantar.

Saat saya naik Uber dari bandara, saya hanya membayar IDR 58.000. Bandingkan dengan biaya IDR 200.000 ala taksi gelap atau IDR 100.000 ala taksi resmi. Saya tidak perlu memberi tips, bisa membayar pas, dan ada kuitansi pembayaran yang dikirim ke email.

Go-Jek

Sebulan pertama di Jakarta adalah masa adaptasi. Saya perlu jalan-jalan supaya tidak bosan di kamar kos. Sesuai perjanjian di kontrak, saya harus tinggal sebulan di Jakarta untuk masa orientasi. Nah, saya sama sekali buta Jakarta. Tapi berkat Go-Jek, saya berhasil sampai ke tempat-tempat yang dulu hanya bisa saya baca di koran.

Taman Safari, CiTOS, Mall PIM, sampai tukang sate kambing daerah PangPol demi kopdar dengan Betemen Loenpia pun saya diantar oleh Go-Jek. Alasannya saya nggak tau jalan, driver yang relatif ramah, dan tarif yang jelas membuat Go-Jek adalah moda transportasi andalan saya selama di Jakarta. Selain itu, sekarang saya mulai membayar menggunakan Go-Pay atau Go-Jek Credit supaya tidak usah repot nunggu kembalian atau cari uang pas.

CommuterLine

Sebagai Cah RoKer (Rombongan Kereta) maka tidak lengkap jika belum nyobain naik KRL atau CommuterLine. KRL adalah transportasi favorit untuk menuju lokasi yang cukup jauh. Biasanya saya pakai untuk mengantar dari Stasiun Gambir atau Pasar Senen menuju ke Stasiun Pasar Minggu dan arah sebaliknya. Menggunakan KRL sangat menghemat biaya dan tenaga, karena sebelum kenal KRL saya naik Go-Jek untuk menuju ke Pasar Senen atau Gambir. Kebetulan lokasi kantor di Jakarta Selatan, itu hampir 20 km jika mbonceng Go-Jek. Pegel bro…

Biaya naik KRL pun sangat murah, hanya IDR 2000 saja dengan cara membeli kartu di loket yang tersedia. Kemudian kartu itu di-tap pada gate masuk dan keluar. Saya menggunakan Indomaret Card untuk membayar ongkos KRL, soalnya kebetulan sudah punya sewaktu di Semarang. Untuk jadwal keberangkatan bisa diakses sangat mudah menggunakan aplikasi Info KRL di Google Play, jadi saya bisa mengatur waktu keberangkatan dengan mudah.

Unjuk Rasa Sopir Taksi

Hari ini, hampir seluruh angkutan umum di Jakarta lumpuh. Dimulai dari sopir taksi yang melakukan unjuk rasa kemudian disusul oleh pengemudi angkot, lalu pengemudi Bajaj pun dikabarkan ikutan unjuk rasa. Alasan mereka seragam, masalah pendapatan yang berkurang akibat beroperasinya taksi online yang dianggap menggerus pasar dan melanggar berbagai aturan.

Oke, saya tidak pernah naik taksi selain BlueBird karena kebetulan dikasih voucher kantor. Saya tidak pernah naik ojek pangkalan karena nggak tau tarif normalnya. Belum naik Bajaj karena harganya lebih mahal dibanding ojek.

Alasan utama saya nggak naik mereka karena masalah harga. Saya hanya ingin naik kendaraan umum yang bisa memberikan kepastian. Pasti diantar, aman, dan pasti harganya, sukur-sukur murah. Jakarta itu keras, harus selektif untuk memilih apapun. Ini hukum ekonomi dimana end-user akan mencari yang pasti. Murah belum tentu bagus, mahal belum tentu nyaman. Tapi ketika kepastian sudah didapat di awal perjalanan, maka saya akan lebih tenang untuk menggunakan jasa angkutan umum.

Gambar diambil semena-mena dari @ijodh