Jalan-Jalan Ke Surabaya

Apa yang akan Anda lakukan, jika datang ke suatu kota tanpa rencana? Itu yang saya alami pada pertengahan bulan Juli 2017 lalu. Sewaktu perjalanan pulang ke Semarang dari Jakarta, ternyata saya ketiduran di Stasiun Tawang dan akhirnya terbawa kereta api hingga ke… Surabaya.

Untunglah sewaktu pemeriksaan tiket, saya terlewatkan oleh pak kondektur sehingga tidak disuruh membayar denda, atau diturunkan di stasiun terdekat. Misalnya saya betul diturunkan, bakalan lebih bingung karena saat saya tersadar masih jam 03:30 pagi dan entah sedang berada dimana. Tapi setidaknya saya sudah habis diketawain sama cah Loenpia di grup WhatsApp.

Oke, setelah 3 jam perjalanan sampailah saya di Stasiun Pasar Turi Surabaya. Kebetulan saya sudah menunaikan Shalat Subuh di kereta dan sempat membeli tiket kereta untuk perjalanan pulang di sore harinya, maka hal yang pertama saya cari adalah kamar mandi.

Saya membayangkan Stasiun Pasar Turi akan megah seperti Stasiun Gambir, namun ternyata bayangan saya salah. Stasiun ini tidak lebih besar daripada Stasiun Tawang, dan sayangnya kebersihan kamar mandinya kurang terjaga. Tapi berhubung harus segera menunaikan hajat pagi, maka ya harus menerima apa adanya.

Setelah urusan hajat terselesaikan dengan damai, maka saatnya berpetualang. Saya keluar stasiun dulu untuk menuju ke tempat cetak mesin tiket. Untunglah tadi memutuskan untuk langsung membeli tiket, karena setelah saya cek, semua tiket kereta ke arah Barat sudah habis terjual hingga hari Minggu (saat itu hari Jumat). Saya menuju ke Indomaret untuk membeli segelas kopi dan Pop Mie untuk sarapan, sekaligus membuat rencana hingga jam 16:00 nanti.

Saya perlu mandi, itu yang terlintas di pikiran. Berhubung masjid di sekitar stasiun menurut saya kurang layak untuk menumpang mandi, maka saya andalkan Google Maps untuk mencari masjid yang besar. Saya mendapatkan sebuah masjid yang berlokasi 1 km dari stasiun, dan perjalanan di segera dimulai.

Perjalanan menuju Masjid Raudhatul Musyaawarah cukup menarik, saya diarahkan untuk melewati komplek pertokoan dan sempat mampir ke ATM BCA disana, kemudian melewati pasar yang cukup ramai, dan akhirnya sampailah ke tempat tujuan. Kebetulan saat itu petugas masjid sedang membersihkan untuk persiapan shalat Jumat, dan ketika melihat saya beliau langsung menunjukkan lokasi kamar mandi. Mungkin kelihatan banget saya belum mandi dan kebablasen sampai sini.

Masjid ini berlokasi di depan DPRD Jawa Timur, sehingga saya rasa masjid ini akan banyak jamaahnya dan terbiasa untuk menerima musafir yang mampir. Foto di atas saya ambil setelah mandi dan bersiap-siap untuk menuju ke lokasi berikutnya. Oh iya, di Surabaya sudah tersedia layanan transportasi online, itulah yang membuat saya tenang untuk jalan-jalan di Surabaya. Tinggal buka aplikasi Go-Jek, saya arahkan tujuan ke House of Sampoerna.

Baca Juga:   Mandi Mahal di Stasiun Gambir

House of Sampoerna menjadi pilihan teratas saat saya mencari tempat wisata melalui Google Maps. Disini tersedia 2 hal yang bisa dinikmati, yaitu mengikuti wisata Surabaya Heritage Track (SHT) menggunakan bus berkeliling kota atau mengunjungi Museum Sampoerna yang berlokasi di House of Sampoerna.

Sayangnya, saya tiba di lokasi pukul 8:30 dan antrean pendaftaran SHT sudah panjang, dan ketika saya tanya slot untuk jam 9:00 pagi ternyata juga sudah habis, slot tersisa yang terdekat adalah jam 13:00. Berhubung saya tidak memiliki banyak waktu, maka saya foto-foto saja dan mau main ke museum saja yang baru dibuka nanti jam 9:00.

Bisnya keren ya? Katanya jika beruntung mengikuti tur SHT, kita akan dibawa ke beberapa tempat bersejarah di Surabaya dan diceritakan pula sejarah setiap objeknya, menarik. Nanti kapan-kapan saya akan datang kesini lagi dan memesan tempatnya dulu, karena ternyata boleh untuk memesan tempat melalui telepon.

Setelah menunggu beberapa saat, akhirnya Museum Sampoerna dibuka. Awalnya saya bingung karena pintunya tertutup, setelah bertanya kepada petugas ternyata memang pintu sengaja ditutup karena ada AC di dalam, saya cukup membuka pintu saja dan gratis tanpa tiket. Kebetulan di dalam sedang ada rombongan keluarga yang sedang berkunjung dan didampingi oleh pemandu museum. Jiwa backpacker saya muncul, langsung saja bergabung ke rombongan itu untuk sekedar ikut mendengarkan penjelasan mas-mas pemandu. Kayanya sih ada beberapa anggota rombongan yang ngeliatin saya waktu ikut rombongan dia, dianggap penyusup mungkin ya? Hihihihi…

Museum ini menarik, kebetulan saya juga memang suka main ke museum. Di museum ini kita bisa melihat sejarah awal Sampoerna hingga sekarang, banyak foto, tembakau, dan alat-alat yang dulu digunakan untuk produksi. Di lantai 2, kita bisa melihat secara langsung proses pelintingan rokok oleh wanita-wanita terampil. Sayangnya disini tidak boleh memotret, tapi kita bisa membeli souvenir disini.

Keluar dari museum, saya diinfokan ada pameran patung di gedung belakang. Tempatnya agak tersembunyi namun tenang, saya sempat melihat-lihat karya seniman disana dan cukup kagum dengan hasil karyanya. Lagi-lagi disini tidak boleh memotret, tapi tidak mengapa karena dengan melihatnya saja, saya sudah merasa cukup.

Perjalanan berikutnya adalah ke Monumen Kapal Selam, terima kasih kepada Okky yang hari itu banyak memberikan informasi tempat tujuan wisata di Surabaya. Tapi sebelumnya saya sempat beli Nasi Rawon yang berada di depan House of Sampoerna sebelum memesan Go-Jek lagi.

Baca Juga:   Jadilah Programmer Yang Baik

Monumen Kapal Selam ini sesuai dengan namanya, kita bisa masuk ke kapal selam sungguhan yang diletakkan disana, tiket masuknya IDR 10.000 saja. Kebetulan karena bukan masa liburan, saya bisa masuk ke kapal selam dengan lengang. Di dalam telah dipasang AC supaya tidak sumuk, kemudian mungkin seharusnya ada pemandu wisata yang akan bercerita, namun saat saya masuk mbak-mbaknya sedang makan siang. Jadilah saya masuk ke setiap bagian kapal selam sendirian. Iya, betul-betul sendirian karena memang sepi pengunjung.

Di dalam kapal selam, saya melihat banyak peralatan yang hanya bisa saya tonton di film, kemudian ada beberapa tulisan keterangan di setiap bagiannya. Kapal selam terbagi menjadi beberapa bagian yang memiliki fungsinya masing-masing. Pada setiap bagian ruangan terdapat pintu yang berukuran besar dan kecil, saran saya jika Anda membawa tas punggung yang besar, lebih baik tasnya dilepas dan dilempar ke dalam saat mau masuk ruangan dengan pintu kecil. Saya sempat nyangkut ketika mau pindah ruangan dengan kondisi tas masih saya panggul. Hihihi…

Saya membayangkan kehidupan di kapal selam tentu serba terbatas, maka jika kapal sedang sandar, pasti seluruh kru langsung mencari hiburan. Kunjungan saya di Monumen Kapal Selam dari pintu masuk ke pintu keluar hanya 15 menit. Saya mencari Video Rama yang tertulis di tiket, tapi tidak menemukannya, apa mungkin juga tidak buka? Saya juga melihat ada kolam renang disana, tapi khusus untuk anak-anak. Sebagai informasi, cuaca saat itu sangat terik, mungkin itu yang membuat kolam renang cukup ramai.

Berhubung waktu telah beranjak siang, maka saya perlu mencari masjid untuk Shalat Jumat. Berbekal Google Maps, saya mencari masjid terdekat dan besar. Saya memilih mengunjungi Masjid Muhajirin di dekat Pemkot Surabaya.

Cukup berjalan kaki selama 15 menit saya sudah sampai ke lokasi, oh iya di tengah perjalanan saya sempat memotret ikon Kota Surabaya yang saya jadikan featured image di postingan ini. Yang saya sukai dari Surabaya adalah trotoar yang ditata rapi dan nyaman bagi backpacker yang berkunjung.

Masjid Al Muhajirin yang saya kunjungi untuk Shalat Jumat ini cukup megah, terletak di dekat kantor Pemkot Surabaya dan jamaahnya sangat banyak. Saya sempat tiduran sejenak untuk meluruskan punggung dan kaki hingga jam 13:00 untuk kemudian mencari makan siang. Okky menyarankan saya untuk mencicipi Sate Klopo yang lokasinya tidak jauh dari masjid, seketika semangat kembali muncul dan langsung menuju kesana.

Baca Juga:   Lagi Trend : Playing The Victim

Saya baru tahu jika penjual Sate Klopo itu cukup banyak, kemudian yang terkenal dan ramai adalah Sate Klopo Ondomohen Bu Asih, namun karena oleh Google Maps diarahkan ke Pojok Malam, maka jadilah saya mampir kesana. Saat baca-baca review ternyata rasanya sama dengan Bu Asih, bahkan dijadikan alternatif jika warung Bu Asih sedang ramai. Memang ketika saya datang ke Pojok Malam, cukup sepi namun pesanan saya jadi cepat disajikan. Kapan-kapan saya akan mampir warungnya Bu Asih.

Kira-kira seperti itu bentuk satenya, satu porsi berisi 10 tusuk daging sapi yang dibaluri parutan kelapa sebelum kemudian dibakar. Hmmm… wanginya menggoda dan rasanya menjadi lebih kaya karena dari parutan kelapa yang ikut dibakar tadi. Seporsi Sate Klopo harganya IDR 20.000 saja.

Baiklah, setelah kenyang saatnya membeli oleh-oleh. Lagi-lagi saya bertanya kepada Google Maps dimana lokasi Bu Rudy untuk membeli sambal dan lain-lainnya. Kemudian saya diarahkan ke Bu Rudy yang beralamat di Jalan Anjasmoro. Tapi katanya Okky, disini bukan yang asli hihihi.. Nggak papa deh yang penting tetap bisa dapat sambalnya.

Ternyata perjalanan cukup jauh, tapi saya bisa melihat banyak spot-spot menarik di Surabaya. Pak Go-Jek yang mengantar saya cukup lihai membawa motornya, sehingga bisa cepat sampai ke tujuan. Sesampai disana saya disambut oleh bangunan dengan tulisan Bu Rudy yang sangat besar.

Disini tidak hanya menjual sambal, namun juga menjual oleh-oleh yang lain. Selain sambal, saya juga membeli petis, terasi, dan beberapa cemilan. Saya juga melihat ada beberapa pengunjung yang sedang makan siang disana, rupanya selain toko oleh-oleh, disini juga bisa untuk makan di tempat.

Saya tidak berlama-lama disini karena waktunya sudah mepet dengan jam keberangkatan saya ke Semarang. Kebetulan juga tidak banyak pengunjung sehingga proses pembayaran bisa diselesaikan dengan cepat. Selanjutnya langsung memesan Go-Jek lagi untuk mengantar saya ke Stasiun Pasar Turi.

Akhirnya, sampailah saya di Stasiun Pasar Turi. Sebagai backpacker dan turis yang baik, saya sempatkan memotret ikon Stasiun Pasar Turi yaitu lokomotif. Sebagai pengingat bahwa saya pernah kebablasen sampai sini akibat ketiduran. Seperti biasa, saya tidak pernah memotret diri sendiri, jadi harap maklum tidak ada foto saya yaaa. Sampai jumpa lagi Surabaya.

2 thoughts on “Jalan-Jalan Ke Surabaya

Tinggalkan Balasan