Strategi Promosi Digital Untuk Bale Bandeng

Ceritanya kami sekeluarga sedang membangun bisnis keluarga, awalnya hanya untuk iseng-iseng mengisi waktu orang tua yang sudah pensiun, tapi setelah dipertimbangkan lagi, kenapa nggak diseriusin saja? Apalagi Pemerintah sedang mendukung pertumbuhan UMKM di masyarakat. Akhirnya, mulai akhir tahun 2015 lalu, kami mulai melakukan serangkaian percobaan menu dengan berbagai varian yang kemudian mengerucut pada satu konsep, yakni fokus di Bandeng Cabut Duri yang diberi nama Bale Bandeng.

Kenapa fokus di ikan? alasannya sederhana, orang tua adalah “alumni” atau pensiunan dari Dinas Perikanan Provinsi Jawa Tengah dan Badan Penelitian & Pengembangan (Balitbang) Jawa Tengah, adek seorang Dokter Hewan, dan saya dosen sekaligus praktisi IT. Kombinasi ini bisa menjadi jaminan kualitas produk dan nilai jual tentunya. Saya dan adek juga sudah berbisnis sejak bertahun-tahun lalu, sehingga untuk pengalaman berjualan sudah bisa dijadikan pedoman untuk membangun bisnis keluarga ini.

Strategi Digital Campaign

Oke, saya mau cerita yang sudah saya lakukan. Berhubung saya nggak berurusan dengan dapur, maka saya mengurusi untuk sisi pemasaran dan penjualan. Promosi digital adalah pilihan pertama karena budget yang terbatas, maklum masih UMKM.

Website

Domain langsung saya beli sesuai dengan nama Bale Bandeng, yakni balebandeng.com. Hosting saya letakkan di server yang selama ini saya pegang, jadinya mendapatkan performa yang bagus. Template juga saya gunakan yang premium, sama dengan yang biasa saya gunakan untuk mengerjakan project web selama ini. Untuk urusan web adalah hal mudah, karena memang sudah terbiasa dalam pembuatan website.

Social Media

Akun social media langsung saya akusisi supaya nantinya inline/bersinergi dengan layanan digital yang lain. Kami menggunakan akun @BaleBandeng di Twitter dan Instagram. Kemudian juga membuat Facebook Pages dengan nama yang sama. Konten masih saya isi sendiri dengan meniru manajemen akun social media ala digital agency.

Verified Business

Berhubung Bale Bandeng menjual produk tapi kami belum sanggup jika harus menyewa tempat jualan, maka kami putuskan untuk berjualan di rumah dengan mengandalkan armada Go-Jek untuk mengantar pesanan, nah tapi saya pengen supaya lokasi jualan mudah dicari dan dikenali oleh calon pelanggan. Jadinya saya mendaftarkan Bale Bandeng ke Google Business dan Foursquare for Business supaya merk Bale Bandeng muncul di Google Maps dan Swarm/Foursquare.

Proses verifikasi ini sebenarnya sangat mudah, karena hanya mengisi form secara lengkap dan mengunggah foto. Yang membedakan proses verifikasinya, dimana Google akan mengirimkan postcard yang berisi kode dan harus dimasukkan ke dashboard Google. Kemudian Foursquare meminta untuk membayar USD 20 untuk claim lokasi sekaligus verifikasi bisnis. Google butuh waktu 3 hari untuk menunggu kiriman postcard, sedangkan Foursquare konfirmasi instan setelah pembayaran dinyatakan berhasil.

Alasan saya repot-repot mendaftarkan supaya menjadi verified business karena aplikasi yang menerapkan LBS (Location Based Services) seperti Go-Jek, Path, Swarm, Instagram, atau apapun yang ada fitur check-in, akan mengambil data dari Google dan Foursquare. Sehingga jika Bale Bandeng telah terdaftar disana, maka siapapun akan langsung bisa mencari dan melihat Bale Bandeng sebagai salah satu lokasi disitu hehehe.

Saat ini saya sedang menjajaki kerjasama dengan Go-Food, saya sudah dikirimi proposal oleh perwakilan Go-Jek Semarang untuk dipelajari dulu. Sistemnya bagi hasil sebesar 15 : 85, dimana saya nantinya setiap akhir bulan akan transfer ke rekening Go-Food sebesar 15% dari total transaksi yang dihasilkan dari Go-Food. Kami sedang pelajari skema ini apakah cocok untuk diterapkan ke Bale Bandeng.

Facebook Ads

Sudah 4 hari ini saya menjalankan Facebook Ads untuk Facebook Page Bale Bandeng. Tujuannya hanya Local Awareness saja, jadi saya nggak pasang target muluk-muluk yang bisa sampai konversi ke sales, yang penting pengguna Facebook di sekitar rumah bisa tau bahwa Bale Bandeng ada. Yang saya suka dari Facebook Ads adalah sistem targetting yang mudah untuk dikonfigurasi.

Saat ini saya set supaya iklan hanya muncul bagi pengguna wanita, usia antara 23-55 tahun, dan berlokasi maksimal 5 mil dari Bale Bandeng. Hasilnya sampai hari ini (29 Maret 2016) sudah dapat 8.227 impression dengan biaya hanya Rp. 38.000 saja. Pilihan iklan yang menarik dibandingkan saya harus memasang iklan di billboard. Mungkin nanti saya akan pasang iklan di billboard atau sebar flyer, tapi itu nanti, bukan sekarang.

Akhirnya, itulah yang sedang saya lakukan untuk membangun Bale Bandeng. Prosesnya masih sangat panjang, tapi setidaknya kami sekeluarga melakukannya dengan benar dan sesuai dengan keahlian masing-masing. Kami yakin, bahwa selama ada passion untuk bekerja, maka pasti hasil yang disajikan akan optimal. Setidaknya itu standar Bale Bandeng, dimana kami sudah atur standar yang sangat tinggi untuk setiap produk yang kami hasilkan.

 

Lagi Trend : Playing The Victim

Victim playing (also known as playing the victim or self-victimization) is the fabrication of victimhood for a variety of reasons such as to justify abuse of others, to manipulate others, a coping strategy or attention seeking. Where a person is known for regular victim playing, the person may be referred to as a professional victim. – Wikipedia.

Akhirnya saya menemukan istilah “Playing the Victim” setelah sekian lama gemes dengan beberapa artikel berita yang saya baca. Misalnya yang terbaru, tentang Walikota Bandung Pak Ridwan Kamil yang dilaporkan ke pihak berwajib oleh sopir omprengan yang membandel, gara-gara sopir itu mengaku dianiaya (ditampar) ketika Ridwan Kamil memergoki sopir tersebut sedang mengangkut penumpang di area terlarang. – Detik.

Masih banyak kasus serupa, bermula dari satu pihak yang melakukan pelanggaran kemudian ada pihak yang menegur atau menindak namun proses penindakannya dianggap tidak sopan, ujungnya adalah pihak yang bersalah itu malah melaporkan pihak penindak dengan tuduhan penganiayaan atau yang paling bikin saya gemes, dituntut karena perbuatan tidak menyenangkan.

Oke, kamu itu salah, kemudian kamu dihukum. Terimalah kesalahanmu itu, mengenai proses penindakan yang tidak enak ya anggap saja dari buah kesalahanmu. Menghukum seseorang dengan baik-baik, nggak akan bikin kapok. Yang ada malah ngelunjak trus besok diulangi lagi. Kapok adalah kondisi ketika orang harus membayar kesalahannya sampai tidak mau mengulang lagi. Pelajaran menuju kapok itu biasanya berat dan keras.

Lha kalo cuma dielus-elus, kapan kapoknya?

Jika pihak yang bersalah masih dibawah umur, boleh ada pengecualian. Tapi dari yang sering saya lihat, justru pelaku playing the victim ini malah orang dewasa, berpendidikan, dan berduit karena mampu untuk menyewa pengacara. Daripada repot-repot ngurusin hati yang terluka karena ditindak, kenapa nggak memperbaiki hati dengan menerima bahwa itulah resiko yang harus diterima. Terimalah seperti orang dewasa. Jika masih nggak terima, bayar dulu kesalahanmu baru lakukan yang perlu dilakukan.

Bukan maksud membandingkan, dulu saya sering dihukum guru. Hukumannya pun beragam, kalo hanya berdiri di depan kelas saya anggap hanya piknik dan pindah duduk. Apakah bikin kapok? Tentu tidak, karena cuma berdiri dan cengengesan di depan, paling kakinya pegel aja. Tapi ketika dihukum dengan ditempeleng gara-gara berantem dengan teman, saya langsung kapok berantem. Bukan karena berantem itu nggak baik, tapi serem ketika kami berdua ditempeleng oleh pak guru yang killer itu. Akhirnya sekarang malah saya berkawan dengan yang teman yang berantem itu, dan hampir tidak pernah terlibat dalam perkelahian karena langsung teringat rasanya.

Apakah saya mengadu ke orang tua? Nggak dong, jika iya, maka saya sama saja playing the victim. Saya merasa salah dengan berkelahi jadinya saya anggap hukuman itu setimpal buat saya. Lagipula, jaman dulu kalo ditempeleng guru trus malah lapor ortu, justru malah ditambahin sama ortu! hahahaha…

Efeknya baik buat saya, yakni tidak dengan mudah menyalahkan orang lain atau menyalahkan situasi jika saya melakukan kesalahan atau mengalami masalah. Buat saya, kesalahan di masa muda itu penting, justru sebaiknya seringlah melakukan kesalahan supaya bisa belajar dari kesalahan itu. Saya sering mengamati mahasiswa yang pandai membuat alasan ketika posisi terjepit, padahal menurut saya itu hanya mengulur waktu saja.

Hadapi dan selesaikan apa yang telah kau mulai.

 

Ketika Offline Menggugat Online

Tidak ada perubahan yang akan menyenangkan, setidaknya itu salah satu pelajaran yang sudah saya alami hingga sekarang. Maka ketika saya mulai terbiasa dengan sebuah kebiasaan, biasanya malah mulai ancang-ancang untuk mencari sesuatu yang baru. Jika tidak, kreatifitas akan pudar, pikiran mulai tumpul, semangat mulai luntur, kemudian akhirnya akan tersadar bahwa ternyata telah tertinggal langkah.

Sebagai warga pendatang ibukota, tantangan terbesar saya sewaktu awal bekerja disini adalah masalah transportasi. Saya tidak hapal jalan dan rute apalagi tarifnya. Bayangan seram lalu-lintas Jakarta sudah membayang beberapa minggu sebelum saya memutuskan untuk berangkat. Ketakutan itu berubah menjadi kenyataan ketika sadar telah tertipu tarif taksi gelap bandara Halim Perdanakusuma di awal kedatangan saya. Waktu itu sehabis landing, saya langsung keluar terminal kedatangan dan clingak-clinguk. Alhasil langsung disamperin sama orang yang menawarkan jasa antar ke kantor. Tanpa pikir panjang langsung mengiyakan saja dengan tarif IDR 200.000.

Apakah mahal? Awalnya saya pikir murah, karena melihat kondisi jalanan yang luar biasa macet. Ternyata saya keliru, setelah ngobrol dengan teman ternyata dapat informasi bahwa tarif taksi resmi akan berkisar IDR 100.000 saja, hanya separuh dari biaya yang saya keluarkan. Pengalaman pertama yang tidak berkesan.

Belajar dari pengalaman itu, saya mulai untuk mencari moda transportasi alternatif. Mulai baca review orang-orang, install beberapa aplikasi di smartphone, hingga akhirnya sekarang saya punya transportasi andalan selama di Jakarta.

Uber

Saya langsung memesan Uber pada kedatangan kedua saya di Jakarta. Saya tidak ingin membayar IDR 200.000 lagi kepada supir taksi gelap. Triknya, ketika sampai di terminal kedatangan langsung buka aplikasi Uber dan pesan untuk diantar menuju kantor. Uber memberikan informasi lengkap dengan navigasi yang mudah. Saya bisa mengetahui estimasi tarif yang akan saya bayarkan beserta data diri pengemudi yang nantinya akan menjemput.

Proses penjemputan juga unik, karena saya cukup berpura-pura sedang dijemput oleh keluarga, teman, atau supir pribadi. Jadi tinggal menunggu jemputan dengan tenang karena posisi mobil akan termonitor di layar. Ketika datang juga langsung masuk, ucapkan salam, sebutkan tujuan, dan duduk nyaman. Perjalanan biasanya terasa nyaman karena mobil yang bagus dan pengemudi yang ramah. Setelah sampai kita juga langsung turun tanpa harus membayar dengan cash, karena pembayaran akan langsung didebet dari kartu kredit. Cukup bilang terima kasih kepada pak supir yang sudah mengantar.

Saat saya naik Uber dari bandara, saya hanya membayar IDR 58.000. Bandingkan dengan biaya IDR 200.000 ala taksi gelap atau IDR 100.000 ala taksi resmi. Saya tidak perlu memberi tips, bisa membayar pas, dan ada kuitansi pembayaran yang dikirim ke email.

Go-Jek

Sebulan pertama di Jakarta adalah masa adaptasi. Saya perlu jalan-jalan supaya tidak bosan di kamar kos. Sesuai perjanjian di kontrak, saya harus tinggal sebulan di Jakarta untuk masa orientasi. Nah, saya sama sekali buta Jakarta. Tapi berkat Go-Jek, saya berhasil sampai ke tempat-tempat yang dulu hanya bisa saya baca di koran.

Taman Safari, CiTOS, Mall PIM, sampai tukang sate kambing daerah PangPol demi kopdar dengan Betemen Loenpia pun saya diantar oleh Go-Jek. Alasannya saya nggak tau jalan, driver yang relatif ramah, dan tarif yang jelas membuat Go-Jek adalah moda transportasi andalan saya selama di Jakarta. Selain itu, sekarang saya mulai membayar menggunakan Go-Pay atau Go-Jek Credit supaya tidak usah repot nunggu kembalian atau cari uang pas.

CommuterLine

Sebagai Cah RoKer (Rombongan Kereta) maka tidak lengkap jika belum nyobain naik KRL atau CommuterLine. KRL adalah transportasi favorit untuk menuju lokasi yang cukup jauh. Biasanya saya pakai untuk mengantar dari Stasiun Gambir atau Pasar Senen menuju ke Stasiun Pasar Minggu dan arah sebaliknya. Menggunakan KRL sangat menghemat biaya dan tenaga, karena sebelum kenal KRL saya naik Go-Jek untuk menuju ke Pasar Senen atau Gambir. Kebetulan lokasi kantor di Jakarta Selatan, itu hampir 20 km jika mbonceng Go-Jek. Pegel bro…

Biaya naik KRL pun sangat murah, hanya IDR 2000 saja dengan cara membeli kartu di loket yang tersedia. Kemudian kartu itu di-tap pada gate masuk dan keluar. Saya menggunakan Indomaret Card untuk membayar ongkos KRL, soalnya kebetulan sudah punya sewaktu di Semarang. Untuk jadwal keberangkatan bisa diakses sangat mudah menggunakan aplikasi Info KRL di Google Play, jadi saya bisa mengatur waktu keberangkatan dengan mudah.

Unjuk Rasa Sopir Taksi

Hari ini, hampir seluruh angkutan umum di Jakarta lumpuh. Dimulai dari sopir taksi yang melakukan unjuk rasa kemudian disusul oleh pengemudi angkot, lalu pengemudi Bajaj pun dikabarkan ikutan unjuk rasa. Alasan mereka seragam, masalah pendapatan yang berkurang akibat beroperasinya taksi online yang dianggap menggerus pasar dan melanggar berbagai aturan.

Oke, saya tidak pernah naik taksi selain BlueBird karena kebetulan dikasih voucher kantor. Saya tidak pernah naik ojek pangkalan karena nggak tau tarif normalnya. Belum naik Bajaj karena harganya lebih mahal dibanding ojek.

Alasan utama saya nggak naik mereka karena masalah harga. Saya hanya ingin naik kendaraan umum yang bisa memberikan kepastian. Pasti diantar, aman, dan pasti harganya, sukur-sukur murah. Jakarta itu keras, harus selektif untuk memilih apapun. Ini hukum ekonomi dimana end-user akan mencari yang pasti. Murah belum tentu bagus, mahal belum tentu nyaman. Tapi ketika kepastian sudah didapat di awal perjalanan, maka saya akan lebih tenang untuk menggunakan jasa angkutan umum.

Gambar diambil semena-mena dari @ijodh

Berlangganan Biznet Metronet Untuk Kantor

Ceritanya mulai bulan Februari 2016 kantor Juara-Agency pindah ke lokasi yang baru. Nah, kalo pindahan kantor begini artinya ada pekerjaan yang harus saya kerjakan, yakni migrasi LAN dan Internet. Kebetulan, sudah lama saya berniat mengganti ISP yang selama ini dipakai karena suka putus-nyambung. Untuk kebutuhan pindahan LAN, sudah dapat vendor yang melakukan cabling dan konfigurasi, tinggal milih ISP untuk supply kebutuhan Internet di kantor.

Setelah bertanya ke beberapa teman, akhirnya memutuskan untuk menggunakan layanan Biznet. Kebetulan Biznet juga meluncurkan produk Biznet Metronet yang menyasar untuk kalangan UKM, sesuai dengan taglinenya “Broadband Internet Untuk Usaha Kecil Menengah (UKM). Nah, paket yang ditawarkan cukup menarik dengan harga yang cukup terjangkau. Berdasarkan daftar harga yang ditawarkan di websitenya, saya tertarik untuk menggunakan layanan Biznet Metronet 3 dengan bandwidth 30 Mbps seharga IDR 2.000.000 + ppn.

Kebetulan, lokasi kantor telah tercover area Biznet sehingga semakin memantapkan untuk berlangganan layanan Metronet ini. Sebagai informasi, harga yang ditawarkan memang murah. Jika ditambah pajak maka per bulan kami hanya mengeluarkan IDR 2.200.000, nah biaya ini harus dengan berlangganan selama 24 bulan tidak boleh putus. Jika kami putus kontrak, maka akan dikenakan biaya penalti sebesar IDR 4.400.000. Selain itu, tidak ada SLA yang dijamin, sehingga memang cukup riskan jika ingin berlangganan. Tapi saya yakin, Biznet tidak akan main-main dalam menjaga kualitasnya, apalagi sudah menyandang nama besar di Indonesia. *positive thinking*

Akhirnya setelah beberapa kali ada drama dalam pemasangan, Biznet Metronet telah dapat dinikmati di kantor. Saya sebut drama karena ternyata perlu menunggu 5 hari sejak kabel ditarik dan 3 tim engineer supaya akses Internet di kantor bisa online. Ada kendala teknis yang sebetulnya tidak perlu terjadi, tapi ya sudahlah sekarang Internet sudah menyala dan orang kantor sepertinya sudah bahagia dengan koneksinya.

 

Gambar diatas adalah skrinsyut ketika koneksi pertama kali tersambung, saya test untuk membuktikan bahwa koneksi up-to 30Mbps tetap dapat kualitas yang baik.

Kamar-Kamar Backpacker di Jakarta

 

 

Siapa yang menyangka jika di daerah Fatmawati, Jakarta Selatan ada hostel untuk backpacker? Ceritanya seminggu ini sedang ngantor di Jakarta, kebetulan kantor sedang pindahan ke lokasi baru yang menjadikan saya harus mengawasi migrasi instalasi jaringan dan infrastruktur lainnya. Nah, yang jadi masalah adalah saya biasanya kalo ngantor ya tidurnya di kantor, lha ini karena kantor sedang pindahan maka pastinya singgasana tidur saya jadi berantakan.

Artinya, saya harus nyari tempat tidur selama disini.

Nyari di layanan pemesanan hotel online harganya pada mahal. Kisaran 350.000 per malam, nyari di AirBNB juga harganya hampir sama dengan hotel. Mau memaksakan diri tidur di kantor, kondisinya masih belum oke untuk tidur, yang ada nanti malah masuk angin dan punggung keceklik.

Setelah beberapa lama mencari, akhirnya dapet satu pencerahan yaitu Kamar-Kamar. Lokasinya ternyata sangat dekat dengan kantor, kalo dari Jalan BDN, bisa lewat Jalan Cereme atau BDN Raya menuju ke arah Jalan Fatmawati. Dari situ tinggal belok ke kiri, cari PHD (Pizza Hut Delivery), lokasi Kamar-Kamar berada di sampingnya persis.

Saat masuk ke lobby, suasananya santai dan hangat. Ada mas-mas resepsionis yang sudah menyambut dan menjelaskan mengenai Kamar-Kamar. Biaya per malam/orang cukup murah, yaitu IDR 150.000 dengan kamar yang bersih dan berisi 6 orang atau 12 orang. Bentuk kasurnya tingkat, sudah termasuk selimut, handuk, dan loker penyimpanan. Selain itu juga boleh menggunakan dapur atau membuat kopi dan teh sepuasnya. Syaratnya, semua peralatan makan dan masak harus dicuci lagi sendiri setelah digunakan. Jika tidak nyaman dengan kamar berbagi, Kamar-Kamar juga menyediakan kamar yang berisi 2 orang dengan harga sekitar 300ribuan.

 

Oh iya, koneksi Internet juga ada. Keterangan nama SSID dan password tertempel di setiap pintu, koneksinya juga bagus karena menggunakan IndiHOME yang 10 Mbps. Sehingga saya rasa cukup untuk mengakomodasi kebutuhan Internet misalnya mau digunakan untuk mengirim report atau sekedar update status di Path.

Welcome to Jakarta

 

Yak, mulai bulan September 2015 lalu saya resmi bekerja di Jakarta. Ndak terasa sudah satu bulan merasakan bekerja di ibu kota yang katanya lebih kejam daripada ibu tiri. Tapi sepertinya semuanya tergantung sudut pandang masing-masing orang sih, saya pribadi merasa nyaman bekerja di Jakarta walaupun memang membutuhkan effort berkali-kali lipat dibandingkan bekerja di Semarang.

Banyak yang nanya, “lho, sekarang sudah nggak ngajar?”

Jawaban saya masih sama, “Saya masih mengajar kok”

Ya, karena suatu hal dan lainnya, maka sekarang saya bekerja di dua tempat, dua kota, dan dua bidang yang sangat berbeda dengan sehari-hari. Mulai bulan Oktober ini saya kembali ke Semarang untuk melanjutkan pekerjaan sebagai dosen, lalu setiap Senin dan Selasa bekerja di Jakarta sebagai Head of Technology.

Kenapa?

Iya, itu banyak sekali pertanyaan yang muncul. Alasannya sederhana, saya perlu belajar.

Pekerjaan sebagai dosen IT membutuhkan asupan informasi lebih banyak karena ilmu yang saya pelajari dan ajarkan ke mahasiswa selalu berkembang setiap saat. Saya merasa 5 tahun berkutat sebagai dosen masih kurang menambah ilmu yang saya miliki, malah terlalu asik dengan pengajaran. Saya menghitung setiap semesternya ternyata terlalu banyak mengampu kelas, mahasiswanya banyak, dan menghabiskan waktu saya terlalu lama di kampus. Awalnya sih oke, karena nggak ada beban tinggal ngajar aja dan nunggu gajian.

Tapi saya punya musuh, yaitu rutinitas.

Ketika pekerjaan mulai rutin, maka kebosanan itu melanda. Di kantor sebelumnya, jika pekerjaan mulai dirasa sebagai rutinitas, masalah mulai teratasi, dan tidak ada tantangan baru, maka kemudian saya mulai bosan. Akhirnya effort untuk datang setiap pagi mulai luntur dan akhirnya memilih untuk resign. Nah, saya tidak ingin resign dari seorang Dosen, karena mengajar salah satu kesukaan saya. Makanya saya perlu menambah kesibukan dan mengurangi jumlah mengajar selama masih sesuai yang dipersyaratkan oleh Dikti.

Kesempatan itu datang.

Saya mendapatkan tawaran dari seorang kawan untuk bekerja di kantornya, kebetulan mereka membutuhkan tenaga IT untuk menangani berbagai macam kebutuhan digital. Saya meminta untuk bekerja secara remote, tentunya mereka menolak. Namun pada akhirnya bisa menerima permintaan saya meski saya masih harus datang dua kali setiap minggunya. Kemudian khusus bulan September saya harus bekerja sebulan penuh untuk beradaptasi dengan lingkungan, bertemu kawan baru, dan memahami tugas pokok saya.

Kesan yang saya dapatkan, MENYENANGKAN!

Suasana kantor yang menyenangkan, saling mendukung, dan berpikiran positif. Kantor diisi oleh anak-anak muda yang kreatif dan memiliki etos kerja tinggi ditambah dengan dukungan dari atasan yang luar biasa. Tantangan dari klien juga beragam, namun dengan kerjasama tim semuanya bisa dilewati satu-persatu. Saya benar-benar belajar apa arti kerjasama, karena sehebat-hebatnya kamu jika dikerjakan sendiri maka hasilnya akan jelek juga.

Saya masih beradaptasi dengan lingkungan dan jam kerja yang baru ini, tapi saya yakin ini akan baik buat saya, dan mudah-mudahan baik juga untuk semuanya.

Berlangganan IndiHOME

Akhirnya setelah menunggu berbulan-bulan tanpa kejelasan, saya menggunakan jalur pertemanan untuk menyambungkan kabel Fiber ke rumah, jadilah sekarang saya berlangganan IndiHOME Fiber. Hari ini adalah bulan pertama saya menggunakan IndiHOME Fiber, sebelumnya sudah berlangganan Speedy 3 Mbps yang masih menggunakan kabel metal, jadi ceritanya upgrade jaringan.

Sekilas kabel fiber yang masuk ke rumah tidak ada perbedaan dengan kabel sebelumnya sehingga dari instalasi tinggal mengikuti kabel yang sudah ada, kemudian kabel yang lama tinggal dipotong. Yang membedakan adalah konfigurasinya, dulu kita mengenal alat bernama splitter yang berfungsi membagi koneksi ke pesawat telepon dan ke modem. Sekarang alat itu tidak diperlukan lagi, karena sekarang semuanya terpusat pada modem utama yang nantinya akan melayani suara, data, dan gambar. Kira-kira bentuknya seperti gambar dibawah.

 

Benda berwarna putih itulah yang mengatur segalanya, modem dengan merk Alcatel-Lucent. Terlihat ada dua antenna yang memancarkan sinyal WiFI kemudian dia tersambung dengan pesawat telepon, dan juga tersambung ke kotak hitam  dengan merk ZTE yang berfungsi sebagai decoder UseeTV. Abaikan potongan tiket nonton itu ya.

Baiklah mari kita bahas layanannya satu persatu.

Telepon Rumah

Mungkin banyak yang tidak menyadari bahwa sekarang teknologi telepon rumah yang digunakan sudah berbeda dengan sebelumnya. Dulu kita masih menggunakan teknologi PSTN untuk mengantarkan suara melalui pesawat telepon, namun sekarang Telkom menggantinya dengan VoIP yang diatur oleh modem Alcatel. Makanya kemudian ada promo gratis 1000 menit bicara setiap bulannya, karena sekarang biaya produksi menjadi sangat murah sebab suara akan langsung diantarkan melalui jaringan Internet. Jadi inget dulu pernah mainan VoIP Merdeka. Kualitas suara, menurut saya jika kupingnya swasta tidak akan merasakan perbedaan berarti hihihi…

Apakah kemudian tidak ada kelemahannya? Tentu saja ada. Musuhnya adalah mati lampu! Sebab, jika modem Alcatel mati, maka semua koneksi akan ikut mati. Berbeda dengan pengguna PSTN khan?

Internet

Saya mendapatkan bandwidth 10 Mbps, ini merupakan pilihan termurah dari IndiHOME Fiber. Jika dihitung maka setidaknya saya akan mendapatkan transfer rate 1 MB/s, tapi seperti biasa ini hanya gimmick. Sebab transfer rate itu hanyalah untuk downstream, sedangkan upstream akan jeblok. Bisa dilihat pada skrinsyut dibawah.

 

Mengapa tidak sekalian dikasih koneksi 1:1 saja? Yaa.. Nanti pelanggan Astinet bakalan kabur kesini. Kesimpulannya, koneksi Internet IndiHOME Fiber cocok untuk pengguna rumahan saja. Sebab biasanya penggunaan Internet lebih sering ke ranah hiburan, dimana itu yang dipakai downstream saja. Tapi kalo dipakai di sektor Industri, yang sering dipakai selain downstream juga koneksi upstream. Bayangkan jika koneksi Internet bank atau sekolahan hanya punya 2 Mbps seperti diatas, nanti semua server bakalan njengking.

Bagaimana kualitasnya? Outstanding! Kebetulan saya lebih suka koneksi yang stabil, dan itulah yang saya dapatkan. Barusan saya mendownload game dari Steam dengan ukuran 1,6 GB bisa diselesaikan dengan waktu kurang dari 30 menit. Transfer rate yang saya dapatkan berkisar di angka 1,2 MB/s – 1,3 MB/s dan itu stabil.

 

UseeTV

Layanan IPTV dari Telkom ini adalah layanan yang paling saya sukai, bahkan bisa saya bilang lebih baik daripada TV Kabel seperti Indovision. Bila terbiasa menonton tayangan Indovision atau film dengan resolusi HD maka perasaan Anda akan sama dengan saya, UseeTV menyajikan gambar dibawah itu. Maklumlah, tayangannya diantar melalui Internet, bukan satelit. Tapi bukan berarti gambarnya jelek lho, gambarnya bagus. Lama-kelamaan saya juga jadi terbiasa menikmati gambar dari UseeTV.

Mengapa saya bilang ini lebih bagus daripada layanan serupa? Pertama dari segi harga, sudah sepaket dengan saya bayarkan tiap bulan. Jumlah 99 channel pun sudah termasuk oke. Tapi yang lebih keren adalah layanan interaktifnya. Kita bisa menonton tayangan lain, misalnya nonton film on-demand. Pilihannya banyak sekali, bahkan HBO OnDemand pun juga bisa dinikmati dari menu yang sama. Jadi kalo pas misal dari 99 channel itu nggak ada yang menarik satupun, bisa coba menu film on-demand.

Trus ada lagi, yaitu layanan TVOD (TV On Demand). Sumpah! Ini keren! Misalnya tayangan film on-demand pun juga sudah nggak ada yang menarik, saya biasanya akan menggunakan layanan ini. Tinggal mencet tombol berwarna hijau, saya akan bisa menonton tayangan dari 99 channel tadi, tapi di jam-jam sebelumnya.

Misalnya nih, saya buka channel HBO trus saya nonton film yang beberapa jam, bahkan beberapa hari sebelumnya. Atau misalnya mau nonton tayangan Masterchef yang nggak ketonton, bisa dilakukan dengan mudah. Jadi pilihan filmnya buanyaaakkkk…

Kesimpulan

IndiHOME Fiber itu keren. Akhirnya Telkom bikin bundling paket yang oke. Biaya yang saya keluarkan per bulan saya rasa sebanding dengan layanan yang saya terima. Masalah mahal atau murah sih itu relatif, tapi dengan layanan yang saya dapat udah oke kok. IndiHOME Fiber cocok untuk penggunaan rumahan saja, misalnya dijadikan warnet atau RT/RW-Net sih bisa saja, tapi jika mau memiliki server yang menjalankan berbagai macam services maka sebaiknya jangan pilih ini. Kelemahan kualitas gambar UseeTV juga sudah ditutupi dengan layanan canggih yang ditawarkan.

It’s worth it.

Pengalaman Menggunakan PureIT

Seperti halnya pada tahun-tahun sebelumnya, ketika usai musim lebaran pasti akan ada keluhan mengenai berkurangnya suplai air minum kemasan di toko-toko terdekat. Saya sudah sering mengalami itu, makanya saya memutuskan untuk tidak lagi mengandalkan air galon untuk kebutuhan minum. Ini bukan tulisan iklan, hanya sekedar berbagi pengalaman saja.

 

Bulan ini merupakan bulan ke-8 pemakaian PureIT. Saya membeli PureIT di Giant Penggaron Semarang pada bulan November tahun lalu, awalnya pembelian ini sudah direncanakan berbulan-bulan sebelumnya, namun baru sempat dibeli pada bulan itu. Seperti halnya calon pembeli PureIT, saya pun juga mengalami kegalauan apakah investasi sebesar 600 ribuan (harga pada saat itu) akan baik untuk saya atau tidak. Namun akhirnya, pada bulan ke-8 ini saya simpulkan, PureIT is worth to buy.

Selama 8 bulan pemakaian, air yang dihasilkan oleh PureIT tidak mengalami perubahan. Dalam arti, airnya selalu dalam kondisi prima seperti saat pertama kali dibeli. Selain itu, air juga tidak hanya saya gunakan minum tapi juga memasak. Artinya, saya bisa menjamin kesehatan makanan yang saya masak karena bersumber dari air yang bersih. Soalnya di rumah, saya hanya mengandalkan air sumur untuk kebutuhan sehari-hari, walaupun jernih tapi saya ndak tega untuk dijadikan bahan memasak. Meskipun komplek perumahan menyediakan air artetis, saya lebih memilih pakai yang gratis saja deh.

Saya sudah sering membaca perdebatan mengenai untung-rugi menggunakan air galon atau PureIT. Menurut saya, silakan saja berdebat tapi sebaiknya coba dulu dua-duanya. Jadi punya data gitu. Menurut saya, PureIT memberikan keuntungan lebih, soalnya saya bisa enteng saja menggunakan airnya untuk berbagai hal. Beda saat saya masih pakai air galon, pastinya mikir-mikir kalo airnya buat masak.

Gampangnya, kita pasti membutuhkan air untuk sehari-hari, maka saya harus bisa mendapatkannya dengan mudah. Selain mudah, airnya harus layak konsumsi. Kebetulan, PureIT bisa menyediakannya. Good job!

 

Hiduplah Sekarang Untuk Masa Mendatang

Apakah sudah siap dengan masa depan? Atau sudah cukup puas dengan yang dimiliki sekarang? Nasib seseorang tidak ada yang tahu, yang bisa kita lakukan sekarang adalah mempersiapkan diri sebaik-baiknya, setidaknya mulai dari sekarang jika memang sebelumnya belum pernah merencanakan satupun. Kita yang sekarang adalah hasil rencana yang kita lakukan di masa lalu. Hanya perlu keyakinan yang tinggi.

Saya mulai merencanakan masa depan sedari masuk bangku kuliah. Jurusan yang saya pilih saat itu masih belum sepopuler sekarang, literatur yang tersedia sangat terbatas, dan akses Internet adalah barang mewah saat itu. Ketika teman-teman saya kuliah jurusan Ekonomi (yang saat itu sangat populer), saya malah berdarah-darah melewati perkuliahan Teknik Informatika. Saya yakin, ahli komputer akan menguasai masa depan.

Sadar dengan minimnya sumber bacaan, maka saya lebih sering dolan ke warnet daripada ke warung. Uang jajan yang diberikan orang tua lebih banyak saya habiskan untuk membayar billing warnet, makanya pas kuliah dulu saya ceking, cuma 55 kg dengan tinggi 170 cm. Investasi ini saya lakukan untuk mengakses Internet sepuasnya, bahkan pernah sampai titik Tidak Tau Mau Apa Lagi di Internet™. Bergabung dengan berbagai komunitas maya, aktif di forum diskusi dan mailing list, sampai ikut mendirikan beberapa komunitas sudah saya lakukan. Minat tentang dunia underground juga tumbuh disini, mulai dari belajar dengan sumbernya sampai akhirnya bisa memberikan advice ke orang lain. Pokoknya berusaha naik kasta dari lamer ke atas terus.

Saya bukanlah mahasiswa yang rajin kuliah. Sebagian besar kegiatan perkuliahan saya saat S1 dulu lebih banyak dihabiskan di organisasi Internet Club, di sinilah saya bisa mendapatkan ilmu praktek selain ilmu teori yang didapatkan di perkuliahan. Ilmu komputer adalah ilmu terapan, nggak mungkin bisa menguasai komputer tanpa mencobanya. Itulah kenapa, saya sangat mendukung mahasiswa yang ikut organisasi, tujuannya agar ilmu yang mereka dapatkan selama kuliah akan berimbang. Percuma IPK tinggi tapi nggak bisa apa-apa. Selain itu, saya disadarkan oleh kakak senior di Internet Club bahwa selepas lulus kuliah nanti, saya akan berhadapan dengan manusia, bukan mesin. Makanya dengan bergabung ke organisasi, saya juga belajar bersosialisasi, berkomunikasi, saling menghormati dan tenggang rasa dengan orang lain. Ilmu teknis dapat, sosial juga dapat. Lengkap!

Banyak yang tidak percaya bahwa saya adalah pemain band. Hahahaha.. Semasa kuliah, saya juga nyambi jadi pemain band di cafe-cafe Semarang. Sering tampil di berbagai event besar baik skala kampus atau umum. Jadi reguler homeband cafe atau mengisi acara di private party pun pernah. Orang-orang yang baru mengenal saya pun nggak percaya kalo saya berposisi sebagai vokalis! Jangankan dia, lha wong saya aja kadang juga nggak percaya bahwa saya punya pencapaian itu. Tapi banyak sekali pengalaman yang saya dapatkan, punya banyak teman, nambah kemampuan untuk berbicara dengan orang lain, berbasa-basi, dan menangani ribuan massa di depan panggung. Kok bisa ya? Padahal aslinya saya itu agak intovert, jarang keluar rumah kalo ndak perlu banget.

Ternyata, semua yang saya lakukan di masa kuliah itu sangat membantu ketika mulai masuk dunia kerja. Saya magang di Suara Merdeka jalan Kaligawe selama 1 bulan dengan 2 orang teman. Kami bertiga tiap pagi datang menerjang macet dan banjir, kemudian baru pulang selepas Maghrib. Semua pekerjaan dilakukan dengan senang hati, lha wong dapat Internet gratis. Bahkan ketika masa magang berakhir, saya ditawari untuk bergabung di Suara Merdeka. Dasar anak muda, kesempatan itu saya tolak hahahaha. Pekerjaan pertama di Radio Gajahmada FM sebagai tenaga IT juga tidak lepas dari bantuan seorang kawan, dia menawarkan pekerjaan dan tau-tau malah dipanggil interview trus diterima. Bekerja di lingkungan yang fun sangat menyenangkan, lagi-lagi ilmu sosial saya semakin meningkat selain jadi semakin banyak belajar. Dua tahun kemudian ada tawaran untuk bergabung ke Telkom dari seorang kenalan, interview sebentar kemudian diterima. Praktis semua itu nggak pakai surat lamaran. Namun akhirnya, hati nggak pernah bohong, saya lebih cocok masuk ke dunia pendidikan. Jadi dosen!

Dosen bukanlah cita-cita saya dari kecil, saya hanya ingin jadi ahli komputer. Tapi, ketika mengingat kembali perjalanan yang telah saya lakukan ternyata saya memang cocok jadi dosen. Ilmu akan lebih berguna jika dibagikan, dulu saya belajar dengan tekun, nggak kenal waktu, rela mengeluarkan uang untuk mempelajari sesuatu. Sekarang saatnya untuk membagikan ilmu yang saya miliki kepada mahasiswa, supaya mereka bisa melebihi saya kelak. Berbagi nggak pernah rugi™.

Sekarang, ternyata saya jadi lebih fokus ke ilmu komputer. Mempelajari ilmu baru yang setiap saat muncul. Master Thesis saya membahas cloud computing yang waktu itu belum populer, sekarang? Saya lebih ahli di bidang cloud. Dengan pengalaman 10+ web development, cloud computing, MTCNA, dan security saya jadi lebih yakin dan mantap menatap masa depan. Persiapan asuransi kesehatan dan jaminan hari tua juga sudah dilakukan, karena hidup sekarang itu untuk masa mendatang.

Ikut Tren Nggak Selalu Keren

Seminggu lalu, dunia dihebohkan dengan keputusan Pemerintah Amerika Serikat yang melegalkan LGBT di seluruh negara bagian Amerika. Keputusan itu langsung disambut oleh pendukung LGBT dengan melakukan parade di jalan dan menjadi perhatian dunia dengan diliput oleh berbagai media. Tidak hanya itu, keriuhan juga terasa di social media dengan munculnya profile picture yang menggunakan background LGBT flag.

Saya tidak mendukung LGBT, tapi saya menghormati pengikutnya. Jujur, saya kadang prihatin dengan orang-orang yang mudah ikut-ikutan tren tanpa mengetahui yang sebenarnya terjadi. Beberapa akun social media temen diubah dengan background serupa, padahal saya tau pasti dia totally straight. Ketika saya tanya, malah jawabnya “bukannya itu gambar AADC ya?”

AADC = Ada Apa Dengan Cinta

Baiklah.. Memang benar dengan yang saya tuliskan sebelumnya, kita itu harus banyak membaca.