One Step Closer

Iya, hari Minggu tanggal 12 Maret 2017, saya melamar pasangan saya. Prosesi lamaran yang sederhana, namun bagi kami berdua, sangat bermakna. Mengingat perjuangan kami untuk mencapai ke tahapan ini tidaklah mudah, banyak sekali tantangan yang sudah kami hadapi dan lalui bersama. Komunikasi yang kami bangun merupakan pondasi yang bisa membuat kami bisa sejauh ini, yang sekali lagi, ini tidak mudah.

Ke depannya, komunikasi akan terus ditingkatkan, tidak hanya antara kami berdua, namun juga ke seluruh keluarga besar. Kami percaya, bahwa membangun keluarga itu berawal dari komunikasi yang bermakna.

Meningkatkan Standar Itu Tidak Mudah, Tapi Bisa Dilakukan

Hai, Ini sudah bulan ketiga di tahun 2017. Sudah melakukan perubahan apa?

Tahun 2017 bagi saya diawali dengan hal-hal yang luar biasa, karena banyak sekali perubahan yang terjadi di sekeliling saya. Terutama dari hal pekerjaan dan kehidupan pribadi. Mungkin sekali-kali saya cerita sedikit ya, biar blognya tidak berisi review dan artikel sok tau terus hahahaha.. Lagipula saya sudah jarang menulis lagi, harus mulai dibiasakan supaya kualitas tulisannya membaik.

Oke, saya mulai dari pekerjaan. Mulai bulan November 2016 lalu saya bergabung ke sebuah perusahaan digital di daerah Kemang, Jakarta Selatan sebagai Senior Engineer. Tugas saya sederhana; yaitu mengumpulkan tim baru, menentukan job-description, menyusun jadwal, dan mengatur ritme pekerjaan. Ini perlu saya lakukan karena perusahaan tersebut baru saja ditinggal oleh semua engineers, dengan kondisi hampir semua aplikasi memiliki bug.

Kebetulan saya kenal baik dengan pendirinya, jadi sebagai kawan yang baik, maka saya mengiyakan tawaran untuk membantu perusahaan sekalian belajar hal baru.

Apakah prosesnya mudah? Tidak! Sama sekali tidak mudah. Selama 2 bulan pertama saya stress dengan banyaknya tanggung jawab yang diemban, kemudian mengetahui bahwa semua aplikasi yang berjalan menggunakan bahasa yang berbeda dengan yang saya kuasai. Namun demikian, saya harus bertahan dan membuktikan bahwa saya bisa diandalkan. Akhirnya, mulai Januari 2017, tim baru mulai terkumpul dengan kualitas yang jauh lebih baik daripada sebelumnya. Saya bangga dan sangat menghormati kepada tim baru ini. Total engineer hanya 7 orang, namun yang fulltime di kantor hanya 1 orang. Sisanya? Remote!

Yup, ini tantangan. Semua engineer yang remote statusnya Senior Engineer dan hanya ngantor beberapa hari saja. Waktunya berbeda-beda, mulai dari hanya 1 hari (saya) hingga ada yang 3 hari, bahkan ada yang saya perbolehkan tidak perlu datang ke kantor. Disinilah tantangan untuk mengatur ritme pekerjaan diuji. Untunglah sebagai akademisi saya dekat dengan berbagai macam resources, saat ini saya sedang menguji salah satu metode di Agile Methodology sebagai fundamental mengatur pekerjaan di kantor. Meskipun awalnya terseok-seok, namun pada akhirnya semuanya dapat diatasi dengan baik. Yang penting komunikasi yang baik terus terjalin meskipun terpisah dengan jarak, dan disinilah saya mendapatkan pengalaman sebagai Project Manager.

Selain bekerja di Kemang, saya juga mengantor di salah satu perusahaan fitness di daerah Tanah Abang. Di kantor ini sebetulnya tidak banyak yang bisa saya lakukan, karena status saya ditransfer kesini semenjak kantor saya di Cipete ditutup. Kebetulan kantor Tanah Abang merupakan sister company dengan kantor Cipete sehingga saya bisa dipindah kesini. Perubahan pekerjaan sangat terasa, dari yang tadinya bekerja di Digital Agency, sekarang harus ngantor di corporate atau yang sering disebut juga sebagai Brand People. Disini semua sistem sangat berbeda dengan yang saya kuasai, juga berbeda bahasa dengan di kantor Kemang.

Jadi, saya ngantor di 2 tempat selama seminggu namun tidak menguasai semua bahasanya. Lalu saya kemudian menyadari, bahwa kemampuan Bahasa Pemrograman tidak bisa dijadikan andalan, namun kemampuan algoritma dan logika yang benar-benar diperlukan. Jadi, bukan berarti saya enak-enakan ngantor, digaji, tapi tidak melakukan apa-apa ya. Hal-hal yang saya perlu lakukan ternyata dipaksa untuk lebih tinggi lagi. Susah? Pasti! Tapi mulai awal Januari 2017 ini semua masalah mulai dapat diatasi, hal-hal yang tadinya saya rasa tidak mungkin saya lakukan, sekarang sudah dapat saya lakukan dengan nyaman. Disini adalah kantor yang sangat menyenangkan, namun kontrak saya di Tanah Abang berakhir di bulan Maret 2017 ini.

Sayangnya, ketika saya merasa sudah memiliki cukup bekal untuk dibagikan ke mahasiswa, terjadi perbedaan visi dengan institusi tempat saya mengajar. Hal ini cukup merugikan saya tentunya dan menghabiskan energi yang tidak sedikit, karena sudah berlangsung sejak 2015. Ini merupakan perubahan yang paling ekstrem di tahun 2017 ini, maka sudah saatnya saya mencari institusi yang memiliki kesamaan visi.

Saya percaya, bahwa mahasiswa Ilmu Komputer perlu dikenalkan teori dan praktikal secara berimbang dan up-to-date. Namun, terdapat hasil penelitian yang mengatakan bahwa, apapun yang kita pelajari di tahun pertama kuliah Teknik, akan basi di tahun ketiga. Maka, sebagai pengajar juga berkewajiban untuk mengejar ketertinggalan tersebut, dan itu mau-tidak-mau harus berani terjun ke industri untuk melihat sendiri bagaimana perkembangannya.

Baiklah, sudah cukup membahas mengenai pekerjaan.

Tahun 2017 ini saya merasa banyak perubahan di sekeliling dan di diri sendiri. Selain memiliki kelebihan, tentunya saya juga memiliki kelemahan. Salah satu kelemahan saya adalah, saya sangat ekspresif, sehingga jika saya menyukai sesuatu, maka tidak segan untuk mengutarakan. Begitu juga sebaliknya, bila saya tidak setuju atau tidak berkenan pada sesuatu hal, maka saya tidak segan menunjukkannya. Ini ternyata membuat pikiran saya menjadi lebih ringan, karena saya bisa fokus terhadap pekerjaan dan pasangan.

Iya, saya akan melamar pasangan saya dalam 5 hari ke depan.

Doakan saya ya…

 

Selamat Idul Adha 1437H

Yeaaayy… Lebaran Idul Adha tahun ini bisa saya rayakan di Semarang, tanggalnya pas banget di long weekend, tapi nanti malam sudah harus berangkat ke Jakarta lagi hahaha.. Alhamdulillah nanti malam dapat kereta Argo Muria Tambahan jam 18:55 yang dijadwalkan sampai Gambir jam 1 pagi, jadinya harus persiapan tidur di stasiun sampai waktunya Subuh sebelum melanjutkan perjalanan ke Istiqlal.

Idul Adha identik dengan kurban, Alhamdulillah tahun ini bisa menunaikan kurban meskipun tidak membeli kambing secara langsung, tapi melalui layanan marketplace secara online dan nantinya daging kurban akan disalurkan langsung melalui jaringan mereka. Saya membaca cukup banyak pro-kontra mengenai model kurban semacam ini, kalo saya sih yang penting saya sudah kasih amanah dan saya mempercayai mereka.

Karena nanti malam sudah harus berangkat, maka kegiatan sate-menyate untuk sementara ditunda dulu, sekarang upload gambar satenya dulu saja.

Akhir kata, selamat Idul Adha 1437H. Semoga makna berkurban dapat mengilhami kita semua (saya pada khususnya) dalam menjalani kehidupan dan bisa membuat kita menjadi orang yang lebih baik. Aamiiin.

Mandi Mahal di Stasiun Gambir

Di postingan sebelumnya, saya cerita tidak terasa sudah setahun bekerja di Jakarta, artinya setiap minggunya dipastikan pasti datang dan pergi di Stasiun Gambir. Bagi yang sudah beberapa tahun tidak mampir ke Gambir, pasti akan “pangling”, atau asing dengan penampilannya yang sudah berubah. Stasiun Gambir sudah lebih bersih, rapi, tertata, dan tidak ada lagi pedagang asongan yang biasanya menghiasi stasiun. Keren lah pokoknya.

Dulu, saya tidak mengalami kesulitan untuk mandi di Stasiun Gambir, karena ada toilet umum yang memang menyediakan fasilitas ala kadarnya untuk mandi. Sekarang setelah semuanya dirapikan, maka mandi menjadi masalah serius bagi sebagian warga pendatang, termasuk saya.

Biasanya setiba di Gambir, saya langsung pesan Go-Jek untuk mengantarkan ke Masjid Istiqlal. Kereta Sembrani atau Argo Anggrek Malam datang biasanya menjelang atau pas waktu Subuh, sehingga memungkinkan untuk shalat Subuh kemudian merem sebentar di Istiqlal, baru dilanjutkan numpang mandi disana.

Tips mandi di Istiqlal, lihat rombongan bis di parkiran. Jika masih banyak sebaiknya urungkan dulu niatan mandi, karena pasti masih penuh dan mengantri. Sebaiknya tunggu sekitar jam 6:30-7.00 saat bis-bis mulai melanjutkan perjalanan, disitulah Anda bisa mandi dengan nyaman karena kondisinya sudah mulai sepi. Lebih siang lebih baik, saya pernah mulai mandi jam 7:30 dan bisa memilih kamar mandi yang paling nyaman.

Oke, lanjut ceritanya. Minggu lalu, kereta Argo Anggrek Malam yang saya tumpangi mengalami TasPat (pembatasan kecepatan) mulai dari Stasiun Semarang Tawang hingga Stasiun Gambir, sehingga saya baru sampai di Jakarta pukul 8:30. Ini tentunya masalah, karena jam masuk kantor saya juga mulai jam segitu. Setelah mengabari Pak Manager, saya memutuskan untuk mencoba mandi di Stasiun Gambir, kebetulan saya sudah sering melihat promo di standing bannernya, yaitu di Shower & Locker.

Mungkin ini adalah mandi termahal yang pernah saya lakukan. PT KAI mengerti bahwa penumpang yang datang ke Jakarta kebanyakan adalah karyawan atau orang yang akan berbisnis, pasti mereka butuh untuk mandi atau setidaknya mempersiapkan diri dengan nyaman. Makanya, Shower & Locker ini memang menyasar orang-orang dari kalangan tersebut. Biaya untuk mandi sebesar IDR 85.000 sudah dengan pinjaman handuk. Kamar mandinya standar hotel melati dengan shower air panas dan dingin yang bisa diatur, semburannya kuat, dan bonus suara gemuruh kereta karena posisinya memang pas berada di bawah rel kereta api. Katanya sih dapat kopi, tapi kemarin saya nggak dapat. Mungkin promonya sudah habis. Silakan klik fotonya untuk memperbesar gambar.

Seperti yang saya ceritakan sebelumnya, kereta Argo Anggrek Malam yang saya tumpangi mengalami TasPat, sehingga hampir semua penumpang pasti berpikiran yang sama untuk menggunakan layanan Shower & Locker, alhasil saya mendapatkan nomor antrean 20. Tadinya saya berpikir bakalan menunggu lama, ternyata petugas Shower & Locker berkoordinasi dengan petugas di Hotel Rail Transit Gambir yang lokasinya bersebelahan untuk membuka kamar demi mengurangi waktu tunggu antrean (yang sudah cukup banyak). Kebetulan saya beruntung mendapatkan giliran di kamar hotelnya, bukan di kamar mandinya Shower & Locker. Jadi fotonya sekalian bisa menggambarkan kondisi hotelnya ya. Oh iya, katanya sih fasilitas asli di Shower & Locker tidak jauh berbeda dengan hotelnya karena memang mereka masih satu manajemen.

Menurut saya, dengan tarif IDR 85.000 per orang memang sangat mahal. Tapi dengan kondisi yang tidak ada pilihan lain, maka sepertinya ini adalah cara terbaik untuk dapat membersihkan diri dengan cepat supaya bisa mengejar waktu. Karena di Jakarta, waktu adalah sesuatu yang berharga, dan PT KAI mengerti itu. Info tambahan, Shower & Locker ini buka 24 jam.

Sukses Itu Mencari Pengalaman

Wah, ndak terasa saya sudah hampir setahun bekerja di Jakarta, kota yang memberikan banyak sekali kesempatan, tinggal bagaimana kita melihatnya. Kemudian jadi ingat pas awal-awal bekerja setahun yang lalu, cukup banyak cerita yang jika diingat membuat saya menjadi semakin bersyukur karena berani mengambil keputusan ini dan keluar dari zona nyaman yang sudah bersama saya selama lima tahun terakhir.

Tidak, saya tidak meninggalkan profesi saya sebagai Dosen. KTP saya juga masih tertulis Dosen, cuma berubah dikit aja, tidak banyak, dan tidak penting buat diceritakan.

Oke, dalam setahun ini saya sudah berpindah lokasi kerja satu kali. Tadinya saya berkantor di sebuah digital agency di daerah Jakarta Selatan, sekarang saya dimutasi ke sister company di daerah Jakarta Pusat. Lebih dekat dengan Gambir, tapi sayangnya nggak bisa tidur di kantor lagi hahaha. Kemudian saya pernah “menolak” sebuah tawaran pekerjaan dengan tawaran yang sangat menggiurkan, namun setelah berkonsultasi dan mempertimbangkan berbagai hal, dengan berat hati saya harus menolak tawaran itu. Mungkin suatu saat saya akan menyesal, tapi saya masih yakin dengan pilihan saya.

Bekerja di Jakarta tanpa sadar membuat saya sedikit berubah, namun dalam arti yang positif. Saya jadi lebih berani dan cepat mengambil keputusan, suatu hal yang dulu tidak mungkin saya lakukan. Saya juga lebih berani untuk mengutarakan pendapat, karena jika tidak begitu bakalan tertindas hahaha. Selain itu jadi lebih merasakan kemajuan teknologi, peliknya masalah, dan tertantang untuk memberikan solusi yang level kesulitannya berkali-kali lipat saat di Semarang dengan kualitas yang berkali-kali lipat juga.

Saya jadi mengerti kenapa selisih gaji atau nilai kontrak di Jakarta dengan di Semarang itu sangat jauh berbeda. Di Jakarta tidak ada yang namanya kualitas pas-pasan atau toleransi tinggi, karena kita selalu mendapatkan ekspetasi yang sangat tinggi dari orang lain. Masing-masing sudah harus paham dengan kewajiban masing-masing baru nanti akan mendapatkan hak yang sudah dijanjikan. Menghargai janji dan waktu dengan orang lain adalah kunci utama, karena semua orang sibuk. Ketika kita mendapatkan sebuah kesempatan, tidak boleh dilewatkan.

Sisi positifnya, pikiran saya menjadi lebih terbuka dan pengetahuan menjadi semakin mendalam. Tadinya mungkin saya hanya tau kulitnya saja, tapi sekarang sudah jauh lebih paham dengan konsep dasarnya. Alhamdulillah tahun ini sudah ikut dua kali international conference.

Saya masih punya waktu hingga Febuari 2017 untuk mencari pengalaman disini. Mudah-mudahan cukup bekal untuk nantinya dibagikan ke mahasiswa, supaya mereka tau dan bisa mempersiapkan diri untuk menghadapai persaingan di bidang IT. Bagaimana selanjutnya? Tentunya masih jadi Dosen, tergantung nanti penawarannya bagaimana hahaha…

New Gear, MacBook Pro MD101

Ceritanya saya barusan beli laptop untuk menunjang pekerjaan sehari-hari, kali ini mau ikut-ikutan jadi fanboy Apple dengan membeli MacBook Pro MD101. Alasannya sederhana, selama saya ngantor di Jakarta ternyata disana cukup banyak pengguna perangkat Mac, dan pengetahuan saya tentang perangkat Mac bisa dibilang tidak ada. Jadi misalnya ada pertanyaan atau pekerjaan yang berhubungan dengan Mac tentu saja saya nggak bisa menyesuaikan diri.

Di saat yang bersamaan, laptop saya Asus N43SL mulai menunjukkan tanda-tanda penuaan. Misalnya terkadang dvd drive suka membuka sendiri tanpa diperintah, laptop jadi cepet panas padahal sudah beberapa kali dibersihkan, kemudian beberapa port seperti HDMI dan VGA mulai menunjukkan kelelahan untuk dapat melayani saya selama 5 tahun terakhir ini. Padahal laptop Asus itu sudah saya upgrade dengan RAM 8 GB dan SSD drive, ternyata penuaan tetap tidak bisa dilawan.

Akhirnya, setelah berkonsultasi dengan Betemen Loenpia dan teman di kantor, saya memutuskan untuk mencoba beralih ke perangkat Mac. Pertimbangannya, Mac dapat mendukung kebutuhan saya seperti presentasi, mengetik, web development, dan sys-admin. Sebelumnya saya sudah pernah mencoba pakai MacBook teman dan memang merasakan bahwa perangkat ini bisa mendukung pekerjaan saya.

Eh jadi ingat, di awal tahun 2008 saya pernah bercita-cita ingin membeli MacBook Pro tapi waktu itu belum punya uang yang cukup. Tapi waktu itu saya yakin bahwa suatu hari saya akan mampu membeli perangkat itu. Mungkin ini pertanda dan inilah saatnya.

Dari hasil konsultasi sebelumnya, ternyata saya tidak perlu membeli perangkat MacBook Pro yang baru, apalagi dengan yang Retina Display. Saya membutuhkan MacBook yang “upgradable”, sedangkan perangkat MacBook keluaran 2013 hingga sekarang sudah tidak dapat diupgrade. Setelah berselancar di berbagai tempat, saya mendapat kesimpulan bahwa MacBook Pro keluaran mid 2012 dengan seri MD101 merupakan generasi terbaik karena sudah dibekali Intel Prosesor i5 generasi 3, RAM dapat diupgrade hingga 16 GB, dan Harddisk dapat diupgrade menggunakan SSD drive. Ukuran layar yang 13 inchi juga pas untuk kebutuhan saya. Masalah bobotnya yang termasuk berat, menurut saya tidak masalah karena ternyata masih lebih berat Asus N43SL.

Masalah berikutnya adalah pencarian barang, ini karena saya mencari barang second tapi tentunya ingin kualitas yang masih bagus. Meskipun sudah banyak marketplace berdiri, saya tetap kembali ke selera asal, yaitu KasKus. Disanalah akhirnya saya menemukan penjual yang memiliki MD101 dengan kualitas 96% dengan penyok minor yang ternyata nggak keliatan. Harga yang ditawarkan juga oke, setelah negosiasi saya bisa mendapatkan dengan harga 8 juta rupiah saja. Uniknya, penjual ini menawarkan menggunakan layanan Tokopedia untuk memanfaatkan layanan cicilan 0%, wah boleh juga tuh. Sistem escrow yang dimiliki Tokopedia juga melindungi saya dari penipuan karena dana baru bisa diteruskan ke penjual ketika barang sudah sampai ke tangan. Jadilah saya membeli MacBook Pro MD101 dengan cicilan 0% dari Tokopedia hahaha.

Bagaimana dengan nasib Asus? Sekarang dia pensiun dan gantian melayani Bale Bandeng di rumah sebagai laptop operasional. Dia sudah tidak perlu mengikuti saya bolak-balik Semarang-Jakarta tiap minggunya, semoga sudah jadi lebih tenang.

Selamat Hari Pendidikan Nasional 2016

Sebagai salah satu civitas akademika di Universitas, saya ucapkan Selamat Hari Pendidikan Nasional 2016. Mudah-mudahan saya terus diberi kekuatan untuk dapat memberikan manfaat bagi mahasiswa dan masyarakat. Hari Pendidikan Nasional ini juga bertepatan dengan Hari Ulang Tahun Kota Semarang ke-468, usia yang sudah sepuh dan berumur, semoga Kota Semarang bisa menjadi panutan kota-kota sekitarnya di Jawa Tengah.

Tahun ini, saya memperingati hari Pendidikan Nasional tidak dengan ikut upacara di kampus, karena tahun ini saya peringati semangat pendidikan di hati.. *halah*

Mendidik harus dimulai dari hati. Karena dari hati, ilmu yang akan ditransfer akan lebih berkualitas. Jangan sampai mengajarkan ilmu dengan keliru, usang, dan tidak tepat. Pengajar yang baik harus bermula dari keyakinan bahwa ilmu yang akan diberikan akan membuat ilmu itu semakin berkembang. Pengajar yang baik juga harus yakin bahwa siapapun yang menerimanya akan memiliki manfaat dari ilmu itu.

Alhamdulillah saya merasa mendapatkan banyak pelajaran selama bekerja di Jakarta, mata semakin terbuka bahwa kesenjangan antara teknologi dan kebutuhan masyarakat masih begitu lebarnya. Disinilah peran pendidik untuk menyiapkan generasi selanjutnya supaya dapat menjembatani kebutuhan itu. Kemampuan saya semakin ditempa dengan keras bahwa sesungguhnya yang saya kuasai sekarang tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan kota besar seperti Jakarta. Disinilah peran pendidik untuk menyiapkan calon wisudawan supaya dapat bersaing dengan industri global.

Selain itu, saya semakin belajar untuk toleransi dan berbesar hati. Cukuplah sudah dengan semua drama di awal tahun ini, cukuplah dengan semua prasangka yang bermunculan selama ini, ternyata hanya dengan mengabaikan dan menyalurkan energi ke hal lain, malah bisa membuat saya menjadi lebih kreatif dari sebelumnya.

Jangan hanya kejar materi, karena nanti hanya akan mendapatkan materi saja. Kejarlah ilmu yang tinggi, kemudian bagikan ilmu itu. Nanti materi akan mengikuti beserta hati yang damai.

Berbagi Tak Pernah Rugi

Lagi Trend : Playing The Victim

Victim playing (also known as playing the victim or self-victimization) is the fabrication of victimhood for a variety of reasons such as to justify abuse of others, to manipulate others, a coping strategy or attention seeking. Where a person is known for regular victim playing, the person may be referred to as a professional victim. – Wikipedia.

Akhirnya saya menemukan istilah “Playing the Victim” setelah sekian lama gemes dengan beberapa artikel berita yang saya baca. Misalnya yang terbaru, tentang Walikota Bandung Pak Ridwan Kamil yang dilaporkan ke pihak berwajib oleh sopir omprengan yang membandel, gara-gara sopir itu mengaku dianiaya (ditampar) ketika Ridwan Kamil memergoki sopir tersebut sedang mengangkut penumpang di area terlarang. – Detik.

Masih banyak kasus serupa, bermula dari satu pihak yang melakukan pelanggaran kemudian ada pihak yang menegur atau menindak namun proses penindakannya dianggap tidak sopan, ujungnya adalah pihak yang bersalah itu malah melaporkan pihak penindak dengan tuduhan penganiayaan atau yang paling bikin saya gemes, dituntut karena perbuatan tidak menyenangkan.

Oke, kamu itu salah, kemudian kamu dihukum. Terimalah kesalahanmu itu, mengenai proses penindakan yang tidak enak ya anggap saja dari buah kesalahanmu. Menghukum seseorang dengan baik-baik, nggak akan bikin kapok. Yang ada malah ngelunjak trus besok diulangi lagi. Kapok adalah kondisi ketika orang harus membayar kesalahannya sampai tidak mau mengulang lagi. Pelajaran menuju kapok itu biasanya berat dan keras.

Lha kalo cuma dielus-elus, kapan kapoknya?

Jika pihak yang bersalah masih dibawah umur, boleh ada pengecualian. Tapi dari yang sering saya lihat, justru pelaku playing the victim ini malah orang dewasa, berpendidikan, dan berduit karena mampu untuk menyewa pengacara. Daripada repot-repot ngurusin hati yang terluka karena ditindak, kenapa nggak memperbaiki hati dengan menerima bahwa itulah resiko yang harus diterima. Terimalah seperti orang dewasa. Jika masih nggak terima, bayar dulu kesalahanmu baru lakukan yang perlu dilakukan.

Bukan maksud membandingkan, dulu saya sering dihukum guru. Hukumannya pun beragam, kalo hanya berdiri di depan kelas saya anggap hanya piknik dan pindah duduk. Apakah bikin kapok? Tentu tidak, karena cuma berdiri dan cengengesan di depan, paling kakinya pegel aja. Tapi ketika dihukum dengan ditempeleng gara-gara berantem dengan teman, saya langsung kapok berantem. Bukan karena berantem itu nggak baik, tapi serem ketika kami berdua ditempeleng oleh pak guru yang killer itu. Akhirnya sekarang malah saya berkawan dengan yang teman yang berantem itu, dan hampir tidak pernah terlibat dalam perkelahian karena langsung teringat rasanya.

Apakah saya mengadu ke orang tua? Nggak dong, jika iya, maka saya sama saja playing the victim. Saya merasa salah dengan berkelahi jadinya saya anggap hukuman itu setimpal buat saya. Lagipula, jaman dulu kalo ditempeleng guru trus malah lapor ortu, justru malah ditambahin sama ortu! hahahaha…

Efeknya baik buat saya, yakni tidak dengan mudah menyalahkan orang lain atau menyalahkan situasi jika saya melakukan kesalahan atau mengalami masalah. Buat saya, kesalahan di masa muda itu penting, justru sebaiknya seringlah melakukan kesalahan supaya bisa belajar dari kesalahan itu. Saya sering mengamati mahasiswa yang pandai membuat alasan ketika posisi terjepit, padahal menurut saya itu hanya mengulur waktu saja.

Hadapi dan selesaikan apa yang telah kau mulai.

 

Ketika Offline Menggugat Online

Tidak ada perubahan yang akan menyenangkan, setidaknya itu salah satu pelajaran yang sudah saya alami hingga sekarang. Maka ketika saya mulai terbiasa dengan sebuah kebiasaan, biasanya malah mulai ancang-ancang untuk mencari sesuatu yang baru. Jika tidak, kreatifitas akan pudar, pikiran mulai tumpul, semangat mulai luntur, kemudian akhirnya akan tersadar bahwa ternyata telah tertinggal langkah.

Sebagai warga pendatang ibukota, tantangan terbesar saya sewaktu awal bekerja disini adalah masalah transportasi. Saya tidak hapal jalan dan rute apalagi tarifnya. Bayangan seram lalu-lintas Jakarta sudah membayang beberapa minggu sebelum saya memutuskan untuk berangkat. Ketakutan itu berubah menjadi kenyataan ketika sadar telah tertipu tarif taksi gelap bandara Halim Perdanakusuma di awal kedatangan saya. Waktu itu sehabis landing, saya langsung keluar terminal kedatangan dan clingak-clinguk. Alhasil langsung disamperin sama orang yang menawarkan jasa antar ke kantor. Tanpa pikir panjang langsung mengiyakan saja dengan tarif IDR 200.000.

Apakah mahal? Awalnya saya pikir murah, karena melihat kondisi jalanan yang luar biasa macet. Ternyata saya keliru, setelah ngobrol dengan teman ternyata dapat informasi bahwa tarif taksi resmi akan berkisar IDR 100.000 saja, hanya separuh dari biaya yang saya keluarkan. Pengalaman pertama yang tidak berkesan.

Belajar dari pengalaman itu, saya mulai untuk mencari moda transportasi alternatif. Mulai baca review orang-orang, install beberapa aplikasi di smartphone, hingga akhirnya sekarang saya punya transportasi andalan selama di Jakarta.

Uber

Saya langsung memesan Uber pada kedatangan kedua saya di Jakarta. Saya tidak ingin membayar IDR 200.000 lagi kepada supir taksi gelap. Triknya, ketika sampai di terminal kedatangan langsung buka aplikasi Uber dan pesan untuk diantar menuju kantor. Uber memberikan informasi lengkap dengan navigasi yang mudah. Saya bisa mengetahui estimasi tarif yang akan saya bayarkan beserta data diri pengemudi yang nantinya akan menjemput.

Proses penjemputan juga unik, karena saya cukup berpura-pura sedang dijemput oleh keluarga, teman, atau supir pribadi. Jadi tinggal menunggu jemputan dengan tenang karena posisi mobil akan termonitor di layar. Ketika datang juga langsung masuk, ucapkan salam, sebutkan tujuan, dan duduk nyaman. Perjalanan biasanya terasa nyaman karena mobil yang bagus dan pengemudi yang ramah. Setelah sampai kita juga langsung turun tanpa harus membayar dengan cash, karena pembayaran akan langsung didebet dari kartu kredit. Cukup bilang terima kasih kepada pak supir yang sudah mengantar.

Saat saya naik Uber dari bandara, saya hanya membayar IDR 58.000. Bandingkan dengan biaya IDR 200.000 ala taksi gelap atau IDR 100.000 ala taksi resmi. Saya tidak perlu memberi tips, bisa membayar pas, dan ada kuitansi pembayaran yang dikirim ke email.

Go-Jek

Sebulan pertama di Jakarta adalah masa adaptasi. Saya perlu jalan-jalan supaya tidak bosan di kamar kos. Sesuai perjanjian di kontrak, saya harus tinggal sebulan di Jakarta untuk masa orientasi. Nah, saya sama sekali buta Jakarta. Tapi berkat Go-Jek, saya berhasil sampai ke tempat-tempat yang dulu hanya bisa saya baca di koran.

Taman Safari, CiTOS, Mall PIM, sampai tukang sate kambing daerah PangPol demi kopdar dengan Betemen Loenpia pun saya diantar oleh Go-Jek. Alasannya saya nggak tau jalan, driver yang relatif ramah, dan tarif yang jelas membuat Go-Jek adalah moda transportasi andalan saya selama di Jakarta. Selain itu, sekarang saya mulai membayar menggunakan Go-Pay atau Go-Jek Credit supaya tidak usah repot nunggu kembalian atau cari uang pas.

CommuterLine

Sebagai Cah RoKer (Rombongan Kereta) maka tidak lengkap jika belum nyobain naik KRL atau CommuterLine. KRL adalah transportasi favorit untuk menuju lokasi yang cukup jauh. Biasanya saya pakai untuk mengantar dari Stasiun Gambir atau Pasar Senen menuju ke Stasiun Pasar Minggu dan arah sebaliknya. Menggunakan KRL sangat menghemat biaya dan tenaga, karena sebelum kenal KRL saya naik Go-Jek untuk menuju ke Pasar Senen atau Gambir. Kebetulan lokasi kantor di Jakarta Selatan, itu hampir 20 km jika mbonceng Go-Jek. Pegel bro…

Biaya naik KRL pun sangat murah, hanya IDR 2000 saja dengan cara membeli kartu di loket yang tersedia. Kemudian kartu itu di-tap pada gate masuk dan keluar. Saya menggunakan Indomaret Card untuk membayar ongkos KRL, soalnya kebetulan sudah punya sewaktu di Semarang. Untuk jadwal keberangkatan bisa diakses sangat mudah menggunakan aplikasi Info KRL di Google Play, jadi saya bisa mengatur waktu keberangkatan dengan mudah.

Unjuk Rasa Sopir Taksi

Hari ini, hampir seluruh angkutan umum di Jakarta lumpuh. Dimulai dari sopir taksi yang melakukan unjuk rasa kemudian disusul oleh pengemudi angkot, lalu pengemudi Bajaj pun dikabarkan ikutan unjuk rasa. Alasan mereka seragam, masalah pendapatan yang berkurang akibat beroperasinya taksi online yang dianggap menggerus pasar dan melanggar berbagai aturan.

Oke, saya tidak pernah naik taksi selain BlueBird karena kebetulan dikasih voucher kantor. Saya tidak pernah naik ojek pangkalan karena nggak tau tarif normalnya. Belum naik Bajaj karena harganya lebih mahal dibanding ojek.

Alasan utama saya nggak naik mereka karena masalah harga. Saya hanya ingin naik kendaraan umum yang bisa memberikan kepastian. Pasti diantar, aman, dan pasti harganya, sukur-sukur murah. Jakarta itu keras, harus selektif untuk memilih apapun. Ini hukum ekonomi dimana end-user akan mencari yang pasti. Murah belum tentu bagus, mahal belum tentu nyaman. Tapi ketika kepastian sudah didapat di awal perjalanan, maka saya akan lebih tenang untuk menggunakan jasa angkutan umum.

Gambar diambil semena-mena dari @ijodh

Kamar-Kamar Backpacker di Jakarta

 

 

Siapa yang menyangka jika di daerah Fatmawati, Jakarta Selatan ada hostel untuk backpacker? Ceritanya seminggu ini sedang ngantor di Jakarta, kebetulan kantor sedang pindahan ke lokasi baru yang menjadikan saya harus mengawasi migrasi instalasi jaringan dan infrastruktur lainnya. Nah, yang jadi masalah adalah saya biasanya kalo ngantor ya tidurnya di kantor, lha ini karena kantor sedang pindahan maka pastinya singgasana tidur saya jadi berantakan.

Artinya, saya harus nyari tempat tidur selama disini.

Nyari di layanan pemesanan hotel online harganya pada mahal. Kisaran 350.000 per malam, nyari di AirBNB juga harganya hampir sama dengan hotel. Mau memaksakan diri tidur di kantor, kondisinya masih belum oke untuk tidur, yang ada nanti malah masuk angin dan punggung keceklik.

Setelah beberapa lama mencari, akhirnya dapet satu pencerahan yaitu Kamar-Kamar. Lokasinya ternyata sangat dekat dengan kantor, kalo dari Jalan BDN, bisa lewat Jalan Cereme atau BDN Raya menuju ke arah Jalan Fatmawati. Dari situ tinggal belok ke kiri, cari PHD (Pizza Hut Delivery), lokasi Kamar-Kamar berada di sampingnya persis.

Saat masuk ke lobby, suasananya santai dan hangat. Ada mas-mas resepsionis yang sudah menyambut dan menjelaskan mengenai Kamar-Kamar. Biaya per malam/orang cukup murah, yaitu IDR 150.000 dengan kamar yang bersih dan berisi 6 orang atau 12 orang. Bentuk kasurnya tingkat, sudah termasuk selimut, handuk, dan loker penyimpanan. Selain itu juga boleh menggunakan dapur atau membuat kopi dan teh sepuasnya. Syaratnya, semua peralatan makan dan masak harus dicuci lagi sendiri setelah digunakan. Jika tidak nyaman dengan kamar berbagi, Kamar-Kamar juga menyediakan kamar yang berisi 2 orang dengan harga sekitar 300ribuan.

 

Oh iya, koneksi Internet juga ada. Keterangan nama SSID dan password tertempel di setiap pintu, koneksinya juga bagus karena menggunakan IndiHOME yang 10 Mbps. Sehingga saya rasa cukup untuk mengakomodasi kebutuhan Internet misalnya mau digunakan untuk mengirim report atau sekedar update status di Path.