Selamat Idul Adha 1437H

Yeaaayy… Lebaran Idul Adha tahun ini bisa saya rayakan di Semarang, tanggalnya pas banget di long weekend, tapi nanti malam sudah harus berangkat ke Jakarta lagi hahaha.. Alhamdulillah nanti malam dapat kereta Argo Muria Tambahan jam 18:55 yang dijadwalkan sampai Gambir jam 1 pagi, jadinya harus persiapan tidur di stasiun sampai waktunya Subuh sebelum melanjutkan perjalanan ke Istiqlal.

Idul Adha identik dengan kurban, Alhamdulillah tahun ini bisa menunaikan kurban meskipun tidak membeli kambing secara langsung, tapi melalui layanan marketplace secara online dan nantinya daging kurban akan disalurkan langsung melalui jaringan mereka. Saya membaca cukup banyak pro-kontra mengenai model kurban semacam ini, kalo saya sih yang penting saya sudah kasih amanah dan saya mempercayai mereka.

Karena nanti malam sudah harus berangkat, maka kegiatan sate-menyate untuk sementara ditunda dulu, sekarang upload gambar satenya dulu saja.

Akhir kata, selamat Idul Adha 1437H. Semoga makna berkurban dapat mengilhami kita semua (saya pada khususnya) dalam menjalani kehidupan dan bisa membuat kita menjadi orang yang lebih baik. Aamiiin.

Review Andromax M3Y Smartfren

Sebulan terakhir ini saya sedang mencoba perangkat baru, Mifi dari Smartfren yang bernama Andromax M3Y. Sudah lama saya mengikuti perkembangan teknologi Internet bergerak, mulai dari teknologi CDMA hingga 4G LTE. Tanpa sadar saya juga mengoleksi berbagai macam modem yang bentuknya bervariasi itu, tapi semuanya sama-sama butuh colokan USB untuk mengaktifkan. Tentunya ini masalah, karena perlu driver supaya komputer/laptop bisa mengenali perangkat dan melakukan dial. Bahkan pernah juga bikin tutorial bagaimana supaya Linux bisa melakukan dial dengan modem-modem tersebut, karena waktu itu UI hanya tersedia untuk OS Windows.

Yang saya suka dari Mifi Andromax M3Y ini adalah… Tidak perlu colok ke USB. Iya, ini adalah solusi terbaik di masa ini. Karena berkat perangkat Mifi ini, saya sudah tidak berlangganan paket data Internet di smartphone, kemudian tidak lagi bergantung kepada sinyal wifi gratisan yang sering lemot dan banyak sniffernya itu. Tinggal nyalakan dan tinggalkan, maksudnya tinggal diletakkan di tas ransel saja. Selama sinyalnya masih dapat, maka semua perangkat saya bisa terkoneksi ke Internet.

Metode ini juga bisa menghemat pengeluaran saya untuk akses Internet tiap bulannya. Dulu saya harus menghidupi paket data semua perangkat, kemudian berlangganan akses hotspot supaya bisa bekerja di luar rumah. Tapi sekarang, cukup dengan pulsa IDR 100.000 per bulan, semua perangkat saya bisa online. Kerennya lagi, karena semua perangkat terhubung di perangkat Andromax M3Y ini, maka semua perangkat saya sekarang menjadi 1 network atau 1 LAN, yang memungkinkan untuk saling bertukar data secara cepat.

Bagaimana dengan jangkauan sinyal? Setiap minggu, rute yang saya tempuh adalah Semarang, Jakarta, dan Yogyakarta. Kira-kira per minggu saya melahap lebih dari 800 km menggunakan Kereta Api, dan lokasi yang tidak tercover hanya daerah pantai selepas Kendal, karena posisi rel mepet banget dengan garis pantai Utara. Selebihnya jangkauan sinyal sangat bagus, di Semarang saya sering di daerah Pedurungan, Simpang Lima, hingga ke Selatan ke arah Yogyakarta sinyalnya bagus semua. di Jogja saya tinggal di area Pogung dan dolan hingga arah Gamping juga tidak ada masalah dengan sinyal. Di Jakarta juga begitu, saya sering di Jakarta Pusat dan Jakarta Selatan kualitasnya oke. Tiap nyetir juga mengandalkan Google Maps yang terhubung dengan Andromax M3Y belum pernah mengalami lost signal.

Tentunya semuanya perlu didukung dengan baterai yang bagus. Saya tidak hapal berapa angka mAH-nya, tapi patokannya Andromax M3Y ini tidak sering saya charge. Berangkat dari Semarang jam 23:30 dengan kondisi baterai 70-80% karena seharian dipakai, sampai Gambir jam 04:30, mampir mandi di Istiqlal dulu dan biasanya sampai kantor jam 07:30 status baterai masih 30%. Sangat awet dan cocok untuk traveller macam saya ini. Good job Smartfren.

Mandi Mahal di Stasiun Gambir

Di postingan sebelumnya, saya cerita tidak terasa sudah setahun bekerja di Jakarta, artinya setiap minggunya dipastikan pasti datang dan pergi di Stasiun Gambir. Bagi yang sudah beberapa tahun tidak mampir ke Gambir, pasti akan “pangling”, atau asing dengan penampilannya yang sudah berubah. Stasiun Gambir sudah lebih bersih, rapi, tertata, dan tidak ada lagi pedagang asongan yang biasanya menghiasi stasiun. Keren lah pokoknya.

Dulu, saya tidak mengalami kesulitan untuk mandi di Stasiun Gambir, karena ada toilet umum yang memang menyediakan fasilitas ala kadarnya untuk mandi. Sekarang setelah semuanya dirapikan, maka mandi menjadi masalah serius bagi sebagian warga pendatang, termasuk saya.

Biasanya setiba di Gambir, saya langsung pesan Go-Jek untuk mengantarkan ke Masjid Istiqlal. Kereta Sembrani atau Argo Anggrek Malam datang biasanya menjelang atau pas waktu Subuh, sehingga memungkinkan untuk shalat Subuh kemudian merem sebentar di Istiqlal, baru dilanjutkan numpang mandi disana.

Tips mandi di Istiqlal, lihat rombongan bis di parkiran. Jika masih banyak sebaiknya urungkan dulu niatan mandi, karena pasti masih penuh dan mengantri. Sebaiknya tunggu sekitar jam 6:30-7.00 saat bis-bis mulai melanjutkan perjalanan, disitulah Anda bisa mandi dengan nyaman karena kondisinya sudah mulai sepi. Lebih siang lebih baik, saya pernah mulai mandi jam 7:30 dan bisa memilih kamar mandi yang paling nyaman.

Oke, lanjut ceritanya. Minggu lalu, kereta Argo Anggrek Malam yang saya tumpangi mengalami TasPat (pembatasan kecepatan) mulai dari Stasiun Semarang Tawang hingga Stasiun Gambir, sehingga saya baru sampai di Jakarta pukul 8:30. Ini tentunya masalah, karena jam masuk kantor saya juga mulai jam segitu. Setelah mengabari Pak Manager, saya memutuskan untuk mencoba mandi di Stasiun Gambir, kebetulan saya sudah sering melihat promo di standing bannernya, yaitu di Shower & Locker.

Mungkin ini adalah mandi termahal yang pernah saya lakukan. PT KAI mengerti bahwa penumpang yang datang ke Jakarta kebanyakan adalah karyawan atau orang yang akan berbisnis, pasti mereka butuh untuk mandi atau setidaknya mempersiapkan diri dengan nyaman. Makanya, Shower & Locker ini memang menyasar orang-orang dari kalangan tersebut. Biaya untuk mandi sebesar IDR 85.000 sudah dengan pinjaman handuk. Kamar mandinya standar hotel melati dengan shower air panas dan dingin yang bisa diatur, semburannya kuat, dan bonus suara gemuruh kereta karena posisinya memang pas berada di bawah rel kereta api. Katanya sih dapat kopi, tapi kemarin saya nggak dapat. Mungkin promonya sudah habis. Silakan klik fotonya untuk memperbesar gambar.

Seperti yang saya ceritakan sebelumnya, kereta Argo Anggrek Malam yang saya tumpangi mengalami TasPat, sehingga hampir semua penumpang pasti berpikiran yang sama untuk menggunakan layanan Shower & Locker, alhasil saya mendapatkan nomor antrean 20. Tadinya saya berpikir bakalan menunggu lama, ternyata petugas Shower & Locker berkoordinasi dengan petugas di Hotel Rail Transit Gambir yang lokasinya bersebelahan untuk membuka kamar demi mengurangi waktu tunggu antrean (yang sudah cukup banyak). Kebetulan saya beruntung mendapatkan giliran di kamar hotelnya, bukan di kamar mandinya Shower & Locker. Jadi fotonya sekalian bisa menggambarkan kondisi hotelnya ya. Oh iya, katanya sih fasilitas asli di Shower & Locker tidak jauh berbeda dengan hotelnya karena memang mereka masih satu manajemen.

Menurut saya, dengan tarif IDR 85.000 per orang memang sangat mahal. Tapi dengan kondisi yang tidak ada pilihan lain, maka sepertinya ini adalah cara terbaik untuk dapat membersihkan diri dengan cepat supaya bisa mengejar waktu. Karena di Jakarta, waktu adalah sesuatu yang berharga, dan PT KAI mengerti itu. Info tambahan, Shower & Locker ini buka 24 jam.