Berlangganan IndiHOME

Akhirnya setelah menunggu berbulan-bulan tanpa kejelasan, saya menggunakan jalur pertemanan untuk menyambungkan kabel Fiber ke rumah, jadilah sekarang saya berlangganan IndiHOME Fiber. Hari ini adalah bulan pertama saya menggunakan IndiHOME Fiber, sebelumnya sudah berlangganan Speedy 3 Mbps yang masih menggunakan kabel metal, jadi ceritanya upgrade jaringan.

Sekilas kabel fiber yang masuk ke rumah tidak ada perbedaan dengan kabel sebelumnya sehingga dari instalasi tinggal mengikuti kabel yang sudah ada, kemudian kabel yang lama tinggal dipotong. Yang membedakan adalah konfigurasinya, dulu kita mengenal alat bernama splitter yang berfungsi membagi koneksi ke pesawat telepon dan ke modem. Sekarang alat itu tidak diperlukan lagi, karena sekarang semuanya terpusat pada modem utama yang nantinya akan melayani suara, data, dan gambar. Kira-kira bentuknya seperti gambar dibawah.

 

Benda berwarna putih itulah yang mengatur segalanya, modem dengan merk Alcatel-Lucent. Terlihat ada dua antenna yang memancarkan sinyal WiFI kemudian dia tersambung dengan pesawat telepon, dan juga tersambung ke kotak hitam  dengan merk ZTE yang berfungsi sebagai decoder UseeTV. Abaikan potongan tiket nonton itu ya.

Baiklah mari kita bahas layanannya satu persatu.

Telepon Rumah

Mungkin banyak yang tidak menyadari bahwa sekarang teknologi telepon rumah yang digunakan sudah berbeda dengan sebelumnya. Dulu kita masih menggunakan teknologi PSTN untuk mengantarkan suara melalui pesawat telepon, namun sekarang Telkom menggantinya dengan VoIP yang diatur oleh modem Alcatel. Makanya kemudian ada promo gratis 1000 menit bicara setiap bulannya, karena sekarang biaya produksi menjadi sangat murah sebab suara akan langsung diantarkan melalui jaringan Internet. Jadi inget dulu pernah mainan VoIP Merdeka. Kualitas suara, menurut saya jika kupingnya swasta tidak akan merasakan perbedaan berarti hihihi…

Apakah kemudian tidak ada kelemahannya? Tentu saja ada. Musuhnya adalah mati lampu! Sebab, jika modem Alcatel mati, maka semua koneksi akan ikut mati. Berbeda dengan pengguna PSTN khan?

Internet

Saya mendapatkan bandwidth 10 Mbps, ini merupakan pilihan termurah dari IndiHOME Fiber. Jika dihitung maka setidaknya saya akan mendapatkan transfer rate 1 MB/s, tapi seperti biasa ini hanya gimmick. Sebab transfer rate itu hanyalah untuk downstream, sedangkan upstream akan jeblok. Bisa dilihat pada skrinsyut dibawah.

 

Mengapa tidak sekalian dikasih koneksi 1:1 saja? Yaa.. Nanti pelanggan Astinet bakalan kabur kesini. Kesimpulannya, koneksi Internet IndiHOME Fiber cocok untuk pengguna rumahan saja. Sebab biasanya penggunaan Internet lebih sering ke ranah hiburan, dimana itu yang dipakai downstream saja. Tapi kalo dipakai di sektor Industri, yang sering dipakai selain downstream juga koneksi upstream. Bayangkan jika koneksi Internet bank atau sekolahan hanya punya 2 Mbps seperti diatas, nanti semua server bakalan njengking.

Bagaimana kualitasnya? Outstanding! Kebetulan saya lebih suka koneksi yang stabil, dan itulah yang saya dapatkan. Barusan saya mendownload game dari Steam dengan ukuran 1,6 GB bisa diselesaikan dengan waktu kurang dari 30 menit. Transfer rate yang saya dapatkan berkisar di angka 1,2 MB/s – 1,3 MB/s dan itu stabil.

 

UseeTV

Layanan IPTV dari Telkom ini adalah layanan yang paling saya sukai, bahkan bisa saya bilang lebih baik daripada TV Kabel seperti Indovision. Bila terbiasa menonton tayangan Indovision atau film dengan resolusi HD maka perasaan Anda akan sama dengan saya, UseeTV menyajikan gambar dibawah itu. Maklumlah, tayangannya diantar melalui Internet, bukan satelit. Tapi bukan berarti gambarnya jelek lho, gambarnya bagus. Lama-kelamaan saya juga jadi terbiasa menikmati gambar dari UseeTV.

Mengapa saya bilang ini lebih bagus daripada layanan serupa? Pertama dari segi harga, sudah sepaket dengan saya bayarkan tiap bulan. Jumlah 99 channel pun sudah termasuk oke. Tapi yang lebih keren adalah layanan interaktifnya. Kita bisa menonton tayangan lain, misalnya nonton film on-demand. Pilihannya banyak sekali, bahkan HBO OnDemand pun juga bisa dinikmati dari menu yang sama. Jadi kalo pas misal dari 99 channel itu nggak ada yang menarik satupun, bisa coba menu film on-demand.

Trus ada lagi, yaitu layanan TVOD (TV On Demand). Sumpah! Ini keren! Misalnya tayangan film on-demand pun juga sudah nggak ada yang menarik, saya biasanya akan menggunakan layanan ini. Tinggal mencet tombol berwarna hijau, saya akan bisa menonton tayangan dari 99 channel tadi, tapi di jam-jam sebelumnya.

Misalnya nih, saya buka channel HBO trus saya nonton film yang beberapa jam, bahkan beberapa hari sebelumnya. Atau misalnya mau nonton tayangan Masterchef yang nggak ketonton, bisa dilakukan dengan mudah. Jadi pilihan filmnya buanyaaakkkk…

Kesimpulan

IndiHOME Fiber itu keren. Akhirnya Telkom bikin bundling paket yang oke. Biaya yang saya keluarkan per bulan saya rasa sebanding dengan layanan yang saya terima. Masalah mahal atau murah sih itu relatif, tapi dengan layanan yang saya dapat udah oke kok. IndiHOME Fiber cocok untuk penggunaan rumahan saja, misalnya dijadikan warnet atau RT/RW-Net sih bisa saja, tapi jika mau memiliki server yang menjalankan berbagai macam services maka sebaiknya jangan pilih ini. Kelemahan kualitas gambar UseeTV juga sudah ditutupi dengan layanan canggih yang ditawarkan.

It’s worth it.

Pengalaman Menggunakan PureIT

Seperti halnya pada tahun-tahun sebelumnya, ketika usai musim lebaran pasti akan ada keluhan mengenai berkurangnya suplai air minum kemasan di toko-toko terdekat. Saya sudah sering mengalami itu, makanya saya memutuskan untuk tidak lagi mengandalkan air galon untuk kebutuhan minum. Ini bukan tulisan iklan, hanya sekedar berbagi pengalaman saja.

 

Bulan ini merupakan bulan ke-8 pemakaian PureIT. Saya membeli PureIT di Giant Penggaron Semarang pada bulan November tahun lalu, awalnya pembelian ini sudah direncanakan berbulan-bulan sebelumnya, namun baru sempat dibeli pada bulan itu. Seperti halnya calon pembeli PureIT, saya pun juga mengalami kegalauan apakah investasi sebesar 600 ribuan (harga pada saat itu) akan baik untuk saya atau tidak. Namun akhirnya, pada bulan ke-8 ini saya simpulkan, PureIT is worth to buy.

Selama 8 bulan pemakaian, air yang dihasilkan oleh PureIT tidak mengalami perubahan. Dalam arti, airnya selalu dalam kondisi prima seperti saat pertama kali dibeli. Selain itu, air juga tidak hanya saya gunakan minum tapi juga memasak. Artinya, saya bisa menjamin kesehatan makanan yang saya masak karena bersumber dari air yang bersih. Soalnya di rumah, saya hanya mengandalkan air sumur untuk kebutuhan sehari-hari, walaupun jernih tapi saya ndak tega untuk dijadikan bahan memasak. Meskipun komplek perumahan menyediakan air artetis, saya lebih memilih pakai yang gratis saja deh.

Saya sudah sering membaca perdebatan mengenai untung-rugi menggunakan air galon atau PureIT. Menurut saya, silakan saja berdebat tapi sebaiknya coba dulu dua-duanya. Jadi punya data gitu. Menurut saya, PureIT memberikan keuntungan lebih, soalnya saya bisa enteng saja menggunakan airnya untuk berbagai hal. Beda saat saya masih pakai air galon, pastinya mikir-mikir kalo airnya buat masak.

Gampangnya, kita pasti membutuhkan air untuk sehari-hari, maka saya harus bisa mendapatkannya dengan mudah. Selain mudah, airnya harus layak konsumsi. Kebetulan, PureIT bisa menyediakannya. Good job!

 

Hiduplah Sekarang Untuk Masa Mendatang

Apakah sudah siap dengan masa depan? Atau sudah cukup puas dengan yang dimiliki sekarang? Nasib seseorang tidak ada yang tahu, yang bisa kita lakukan sekarang adalah mempersiapkan diri sebaik-baiknya, setidaknya mulai dari sekarang jika memang sebelumnya belum pernah merencanakan satupun. Kita yang sekarang adalah hasil rencana yang kita lakukan di masa lalu. Hanya perlu keyakinan yang tinggi.

Saya mulai merencanakan masa depan sedari masuk bangku kuliah. Jurusan yang saya pilih saat itu masih belum sepopuler sekarang, literatur yang tersedia sangat terbatas, dan akses Internet adalah barang mewah saat itu. Ketika teman-teman saya kuliah jurusan Ekonomi (yang saat itu sangat populer), saya malah berdarah-darah melewati perkuliahan Teknik Informatika. Saya yakin, ahli komputer akan menguasai masa depan.

Sadar dengan minimnya sumber bacaan, maka saya lebih sering dolan ke warnet daripada ke warung. Uang jajan yang diberikan orang tua lebih banyak saya habiskan untuk membayar billing warnet, makanya pas kuliah dulu saya ceking, cuma 55 kg dengan tinggi 170 cm. Investasi ini saya lakukan untuk mengakses Internet sepuasnya, bahkan pernah sampai titik Tidak Tau Mau Apa Lagi di Internet™. Bergabung dengan berbagai komunitas maya, aktif di forum diskusi dan mailing list, sampai ikut mendirikan beberapa komunitas sudah saya lakukan. Minat tentang dunia underground juga tumbuh disini, mulai dari belajar dengan sumbernya sampai akhirnya bisa memberikan advice ke orang lain. Pokoknya berusaha naik kasta dari lamer ke atas terus.

Saya bukanlah mahasiswa yang rajin kuliah. Sebagian besar kegiatan perkuliahan saya saat S1 dulu lebih banyak dihabiskan di organisasi Internet Club, di sinilah saya bisa mendapatkan ilmu praktek selain ilmu teori yang didapatkan di perkuliahan. Ilmu komputer adalah ilmu terapan, nggak mungkin bisa menguasai komputer tanpa mencobanya. Itulah kenapa, saya sangat mendukung mahasiswa yang ikut organisasi, tujuannya agar ilmu yang mereka dapatkan selama kuliah akan berimbang. Percuma IPK tinggi tapi nggak bisa apa-apa. Selain itu, saya disadarkan oleh kakak senior di Internet Club bahwa selepas lulus kuliah nanti, saya akan berhadapan dengan manusia, bukan mesin. Makanya dengan bergabung ke organisasi, saya juga belajar bersosialisasi, berkomunikasi, saling menghormati dan tenggang rasa dengan orang lain. Ilmu teknis dapat, sosial juga dapat. Lengkap!

Banyak yang tidak percaya bahwa saya adalah pemain band. Hahahaha.. Semasa kuliah, saya juga nyambi jadi pemain band di cafe-cafe Semarang. Sering tampil di berbagai event besar baik skala kampus atau umum. Jadi reguler homeband cafe atau mengisi acara di private party pun pernah. Orang-orang yang baru mengenal saya pun nggak percaya kalo saya berposisi sebagai vokalis! Jangankan dia, lha wong saya aja kadang juga nggak percaya bahwa saya punya pencapaian itu. Tapi banyak sekali pengalaman yang saya dapatkan, punya banyak teman, nambah kemampuan untuk berbicara dengan orang lain, berbasa-basi, dan menangani ribuan massa di depan panggung. Kok bisa ya? Padahal aslinya saya itu agak intovert, jarang keluar rumah kalo ndak perlu banget.

Ternyata, semua yang saya lakukan di masa kuliah itu sangat membantu ketika mulai masuk dunia kerja. Saya magang di Suara Merdeka jalan Kaligawe selama 1 bulan dengan 2 orang teman. Kami bertiga tiap pagi datang menerjang macet dan banjir, kemudian baru pulang selepas Maghrib. Semua pekerjaan dilakukan dengan senang hati, lha wong dapat Internet gratis. Bahkan ketika masa magang berakhir, saya ditawari untuk bergabung di Suara Merdeka. Dasar anak muda, kesempatan itu saya tolak hahahaha. Pekerjaan pertama di Radio Gajahmada FM sebagai tenaga IT juga tidak lepas dari bantuan seorang kawan, dia menawarkan pekerjaan dan tau-tau malah dipanggil interview trus diterima. Bekerja di lingkungan yang fun sangat menyenangkan, lagi-lagi ilmu sosial saya semakin meningkat selain jadi semakin banyak belajar. Dua tahun kemudian ada tawaran untuk bergabung ke Telkom dari seorang kenalan, interview sebentar kemudian diterima. Praktis semua itu nggak pakai surat lamaran. Namun akhirnya, hati nggak pernah bohong, saya lebih cocok masuk ke dunia pendidikan. Jadi dosen!

Dosen bukanlah cita-cita saya dari kecil, saya hanya ingin jadi ahli komputer. Tapi, ketika mengingat kembali perjalanan yang telah saya lakukan ternyata saya memang cocok jadi dosen. Ilmu akan lebih berguna jika dibagikan, dulu saya belajar dengan tekun, nggak kenal waktu, rela mengeluarkan uang untuk mempelajari sesuatu. Sekarang saatnya untuk membagikan ilmu yang saya miliki kepada mahasiswa, supaya mereka bisa melebihi saya kelak. Berbagi nggak pernah rugi™.

Sekarang, ternyata saya jadi lebih fokus ke ilmu komputer. Mempelajari ilmu baru yang setiap saat muncul. Master Thesis saya membahas cloud computing yang waktu itu belum populer, sekarang? Saya lebih ahli di bidang cloud. Dengan pengalaman 10+ web development, cloud computing, MTCNA, dan security saya jadi lebih yakin dan mantap menatap masa depan. Persiapan asuransi kesehatan dan jaminan hari tua juga sudah dilakukan, karena hidup sekarang itu untuk masa mendatang.

Ikut Tren Nggak Selalu Keren

Seminggu lalu, dunia dihebohkan dengan keputusan Pemerintah Amerika Serikat yang melegalkan LGBT di seluruh negara bagian Amerika. Keputusan itu langsung disambut oleh pendukung LGBT dengan melakukan parade di jalan dan menjadi perhatian dunia dengan diliput oleh berbagai media. Tidak hanya itu, keriuhan juga terasa di social media dengan munculnya profile picture yang menggunakan background LGBT flag.

Saya tidak mendukung LGBT, tapi saya menghormati pengikutnya. Jujur, saya kadang prihatin dengan orang-orang yang mudah ikut-ikutan tren tanpa mengetahui yang sebenarnya terjadi. Beberapa akun social media temen diubah dengan background serupa, padahal saya tau pasti dia totally straight. Ketika saya tanya, malah jawabnya “bukannya itu gambar AADC ya?”

AADC = Ada Apa Dengan Cinta

Baiklah.. Memang benar dengan yang saya tuliskan sebelumnya, kita itu harus banyak membaca.