Berkuliah Itu Pilihan

Hari Jumat lalu, tanggal 26 Juni 2015 adalah hari terakhir pendaftaran peserta didik untuk wilayah Semarang. Pendaftaran serentak yang meliputi tingkat SD, SMP, SMA, dan SMK ini telah dilayani dengan baik oleh sistem PPD Kota Semarang yang bekerjasama dengan salah satu universitas swasta di Semarang. Ingatan saya kembali sekitar 16 tahun yang lalu (gile, udah tua) ketika saya sedang sibuk mendaftar ke SMA. Saat itu metode pendaftaran masih manual, belum ada sistem yang mempermudah segalanya. Jadi setiap hari saya harus naik angkot dari rumah di Tlogosari menuju ke SMA yang terletak di pusat kota Semarang, hanya untuk melihat jurnal pendaftaran yang tentunya akan dapat berubah sewaktu-waktu. Selain itu saya juga mendaftar di SMA yang lokasinya lebih dekat dengan rumah, jadi perjalanan saat itu memakan waktu hampir setengah hari untuk sekedar melihat jurnal.

Hasilnya? Saya tidak diterima di kedua SMA itu, padahal nilai NEM (iya, dulu namanya NEM) masih mencukupi untuk diterima di SMA pilihan kedua, tapi karena tidak sempat cabut berkas dari SMA pilihan pertama ya jadinya malah nggak diterima semuanya. Kemudian saya langsung menuju ke sekolah swasta yang sudah saya jadikan alternatif apabila tidak diterima di sekolah negeri. Jadinya, saya menghabiskan waktu SMA saya disana. Hahaha..

Semua proses itu saya lakukan sendiri, orang tua hanya memberi saya bekal untuk naik angkot. Apakah saya kecewa? Awalnya pasti dong, tapi kemudian justru saya puas karena saya bisa memilih sekolah saya sendiri. Saya belajar banyak hal, bahwa dunia ini penuh dengan pilihan dan kita tinggal mau mengambilnya atau tidak. Bagaimana jika saat itu saya memasrahkan semuanya ke orang tua? Mungkin saya sudah bersekolah di SMA negeri pilihan, karena saat itu jabatan orang tua cukup berpengaruh untuk mendaftar sekolah. Tapi mungkin saya tidak akan pernah belajar menghargai proses dan akan bersekolah dengan semaunya sendiri.

Terhitung sejak SMA, saya mulai diberikan kebebasan untuk berpendapat oleh orang tua. Tujuannya supaya saya dapat membuat pertimbangan dan memutuskan untuk kemudian bertanggungjawab atas pilihan tersebut. Jadi memang sejak saat itu, di kepala saya selalu membuat opsi-opsi dalam hal apapun kemudian nantinya digunakan untuk berdiskusi dengan orang tua. Saya sangat beruntung memiliki orang tua seperti mereka.

Sekarang saya sudah menjadi dosen, sebuah pekerjaan yang dulu sewaktu masih kecil pun tidak terbayangkan. Mungkin di beberapa postingan sebelumnya saya sudah pernah bercerita bahwa menjadi dosen ini juga setelah melewati berbagai macam pertimbangan. Menjadi seorang dosen adalah pilihan yang saya buat, dan saya harus bertanggungjawab atas pilihan saya tersebut.

Namun, tadi ketika sedang menjaga ujian saya agak trenyuh melihat mahasiswa yang mengerjakan UAS. Kadang saya tidak habis mengerti dengan mahasiswa yang tidak bisa mengerjakan satupun soal-soal ujian ditambah dengan tidak memiliki catatan yang bisa digunakan untuk membantu pengerjaan soal. Ini sama sekali nggak masuk akal! Apa saja yang mereka kerjakan selama perkuliahan? Bukannya saat kuliah itu perlu menyimak dan mencatat ya? Jika hanya mengandalkan fotokopian, apa yang bisa didapatkan dari situ? Fotokopian slide tentunya tidak akan memberikan jawaban pertanyaan ujian. Akan sangat aneh jika ada soal ujian dari dosen yang jawabannya ada di fotokopian yang tinggal disalin jawabannya.

Bukannya menjadi mahasiswa adalah pilihan? Program studi yang diambil juga sebuah pilihan. Tentunya topik matakuliah yang akan diambil juga sudah bisa diprediksi. Jika tidak suka, kenapa tidak membuat alternatif tindakan? Belajar lebih giat misalnya, atau memilih untuk pindah jurusan. Itu pilihan kok. Bahkan ketika saya mengajar, dari 60 mahasiswa pasti yang mencatat hanya sepertiganya, sisanya? Minta slide presentasi. Padahal sudah sejak semester ini saya mencoba untuk tidak menggunakan slide presentasi untuk mengajar, hanya mengandalkan laptop untuk koneksi Internet dan spidol untuk mencoret-core di whiteboard.

Berkuliah itu pilihan, itu juga akan membanggakan orang tua. Menjadi mahasiswa itu pilihan, itu akan meningkatkan derajat di pekerjaan nantinya. Tapi jangan pernah menyia-nyiakan pilihan yang dibuat, apalagi jika pilihan itu masih melibatkan orang tua. Akhirilah apa yang sudah diawali.

Jadilah Programmer Yang Baik

169971696

Bad programmers worry about the code. Good programmers worry about data structures and their relationship. ~ Linus Torvalds

Sebagai dosen yang mengajar mata kuliah programming, saya menyadari betul bahwa tidak semua mahasiswa memiliki kemampuan coding yang merata, ada yang merasa coding itu menyenangkan namun tidak sedikit juga yang menganggap coding merupakan sebuah kegiatan yang membosankan. Alasan tersebut tidak salah, karena mempelajari sebuah bahasa baru yang notabene tidak digunakan untuk berkomunikasi sehari-hari memang membutuhkan effort lebih tinggi dibandingkan mempelajari bahasa internasional.

Seiring berjalannya waktu, biasanya setiap orang akan mengalami perubahan. Begitu juga dengan programmer pemula yang akan meningkat kemampuannya. Menulis code akan terasa lebih ringan, ditambah dengan kemampuan untuk menciptakan library sendiri yang membuat proses pembuatan program menjadi lebih cepat. Selain itu, tantangan yang dihadapi si programmer akan lebih beragam yang terkadang membuat logika menjadi buntu seakan tidak ada solusinya, namun pada akhirnya semuanya terselesaikan juga.

Pada titik ini, biasanya programmer akan menyadari bahwa sebuah program komputer adalah sarana atau alat untuk menyelesaikan permasalahan menggunakan bantuan komputer. Program yang baik tidak lagi dilihat dari yang memiliki kode rumit atau fitur yang futuristik. Program yang baik adalah program yang dapat menyelesaikan masalah.

Program tidak hanya berisi kode program saja, tapi terdiri dari banyak komponen. Program dapat bekerja dengan baik apabila didukung dengan data yang baik juga. Manajemen data harus dijadikan prioritas utama saat pembuatan program. Perancangan basis data tidak bisa lagi dianggap sepele, analisis permasalahan dan kebutuhan harus dilakukan di awal pembuatan program. Itulah yang terkadang menjadi dilema di hati programmer ketika akan menerapkan idealisme yang sering berbenturan dengan deadline.

Ketika saya mulai kuliah S2 di UGM, saya baru menyadari bahwa inti pembuatan program justru pada metode penyelesaian masalahnya. Sebisa mungkin, ketika membuat program itu berdasarkan metode yang ilmiah, sehingga hasil yang didapatkan dari program dapat dipertanggungjawabkan. Apalagi jika program yang dibuat akan melakukan pengolahan data. Rumus-rumus yang digunakan harus berasal dari sebuah metode yang biasanya berupa notasi matematika.

Begitu juga dengan perancangan basis data, sebaiknya dirancang dengan mengedepankan kebutuhan pengguna, bukan mengikuti kemauan programmer. Perancangan basis data sebaiknya menggunakan pendekatan ilmiah sehingga nantinya data yang tersimpan akan lebih terstruktur dan justru mempermudah programmer ketika mulai menyusun query. Hubungan/relasi antar tabel juga sebaiknya tidak ditentukan secara sembarangan karena ada beberapa proses penentuan key sehingga relasi yang dihasilkan betul-betul sesuai dengan kebutuhan.

Kira-kira, dengan contoh kasus yang saya twitkan itu, ada yang kurang tepat ndak? Jawabnya: Ada.

 

Sudah Siap Menyambut Bulan Ramadhan?

ILM Versi Keranda.1

Wah, nggak terasa besok Kamis, 18 Juni 2015 sudah memasuki bulan Ramadhan. Waktu terasa begitu cepat selama setahun terakhir ini. Pertanyaannya, apakah sudah siap menyambut bulan Ramadhan? Pertanyaan yang mudah, tapi cukup susah menjawabnya. Apakah selama setahun belakangan ini sudah memanfaatkan waktu dengan sebaik-baiknya? Apakah sudah mengamalkan semua perintah Allah dan sekaligus menjauhi larangannya? Hanya kita sendiri yang mampu menjawabnya.

Puasa di bulan Ramadhan merupakan hubungan pribadi antara seseorang dengan Tuhannya. Tidak perlu diperlihatkan secara berlebihan kepada orang lain, atau bahkan meminta orang lain untuk mengerti yang kita kerjakan.

Saya mendukung kicauan Pak Lukman H Saifuddin selaku Menteri Agama RI. Saya masih ingat ketika kecil, sudah ada himbauan untuk menutup warung makan selama bulan Ramadhan, tapi tidak seekstrim sekarang yang sampai segerombolan mengatasnamakan ormas tertentu memaksa warung makan pada tutup.

Memaksa, sekali lagi memaksa warung makan atau restoran untuk tutup selama bulan Ramadhan menurut saya adalah tindakan konyol, manja, dan kekanak-kanakan jika alasannya hanya untuk menghormati orang berpuasa. Muslim yang taat tidak perlu hal-hal seperti itu, seperti yang saya katakan sebelumnya bahwa puasa merupakan hubungan pribadi antara umat dengan Tuhannya. Saya belum pernah melihat satupun orang di lingkaran saya yang sudah sahur di pagi hari kemudian siangnya batal puasa gara-gara lewat di depan warung makan. Anak-anak kecil yang sedang belajar puasa juga tidak dengan mudahnya batal gara-gara ada orang jualan. 

Masa sekarang malah ingin menutup warung makan? 

Ayo kita sambut bulan Ramadhan dengan menjadi orang yang lebih baik daripada bulan-bulan sebelumnya. Perbanyak memaca Al-Quran, jalankan shalat wajib dan sunnah, tambahkan nominal jumlah zakat dan infaq. Menurut saya itu akan lebih berguna daripada memaksa orang lain untuk menghormati kita.

Gambar diambil dari PetakUmpet

Ngopi Vietnam Drip

IMG_20150614_090504

Sudah beberapa bulan terakhir ini, saya kalo ngopi tidak menggunakan kopi instan. Ceritanya lagi seneng untuk membuat kopi sendiri walaupun belum sampai level hardcore yang harus grinding sendiri. Minimal sekarang sudah mulai meninggalkan kopi sachet yang (katanya) banyak mengandung bahan kimia itu. Lagipula, ternyata memang menikmati kopi yang masih fresh dan tanpa gula rasanya memang lebih nikmat. Selain itu rasa kopi yang dihasilkan juga lebih kuat dan lebih terasa enak di badan.

Saya membeli Vietnam Drip untuk ngopi sehari-hari. Bentuknya kecil, berbahan dari stainless-steel yang gampang perawatannya dan dibawa-bawa. Untuk kopi, saya pakai yang gampang saja (dan mudah ditemukan), Kalosi Toraja dari Excelco dengan tingkat keasaman dan body yang paling pas di lidah. Sedangkan untuk pemanis kalo pas butuh, biasanya saya kasih campuran susu fullcream dengan merk apapun. Seperti yang dibilang oleh Mas Pepeng Klinik Kopi, hindari penggunaan gula pada kopi.

Ngopi dengan Vietnam Drip pada dasarnya sangat mudah. Jadi alat itu terdiri dari beberapa bagian, kalo pas beli nanti akan diberikan tutorial penggunaan dan beberapa resep untuk variasi minuman, tapi yang saya sukai hanya resep kopi hitam dan kopi susu saja sih. Saya tidak tau nama-nama bagian alat tersebut, tapi menurut saya ndak perlu dihapalkan ah, wong gampang kok.

Pertama, saya masukkan susu sebanyak 40 ml / satu sachet susu fullcream ke dalam gelas. Kalo dirasa kemanisan ya bisa dikurangi. Kemudian masukkan 1 sendok makan penuh kopi ke bagian penampung Vietnam Drip, kemudian padatkan dengan tamper yang tersedia. Gunakan tutup dari Vietnam Drip untuk wadah di bawah supaya kopinya nggak tumpah kemana-mana. Kalo sudah siapkan letakkan alat di atas cangkir dan siapkan air panas. Kira-kira gambarnya seperti dibawah :

IMG_20150614_084347

 

Gambar diatas itu posisi penggunaan dari Vietnam Drip. Nantinya air panas akan dimasukkan dari bagian atas dengan sebelumnya membuka penutupnya. Tipsnya, tuangkan sedikit air panas kemudian diamkan selama 20 detik, lalu penuhi dengan air panas kemudian ditutup. Tunggu kira-kira 20 menit untuk prosesnya.

IMG_20150614_084528

Secara perlahan, kopi akan menetes dari Vietnam Drip ke dalam gelas. Seperti yang sudah saya sebutkan sebelumnya, proses ini akan mencapai 20 menit. Jadi sabar saja, lanjutkan pekerjaan Anda.

IMG_20150614_090229

Nah, jika tetesan sudah berhenti maka tampilannya akan seperti gambar di atas. Warna kopi terlihat hitam dengan susu yang ada dibawahnya. Angkat Vietnam Drip kemudian tinggal diaduk kopinya saja, maka kopi nikmat siap dinikmati di sela-sela kesibukan Anda. Memang caranya manual, tapi nikmat. Jika ingin mencoba membuat Espresso, caranya masih sama, tapi tidak perlu menggunakan susu dan air panas yang dimasukkan hanya setengah dari wadah, rasa Espresso nggak kalah dengan buatan mesin kopi kok.

Untuk perawatan Vietnam Drip, cukup dicuci dengan air bersih saja tanpa sabun. Jangan pakai sabun apapun, cukup air saja ya.

 

 

Wi-Fi Aware™

wifi-aware

Wi-Fi, sebuah teknologi yang mengubah dunia, dimana kita dapat berkomunikasi dengan siapapun secara wireless. Berkat Wi-Fi ini jugalah kita dapat menikmati segala fitur canggih yang ditanamkan pada smartphone. Lima belas (15) tahun yang lalu, mungkin tidak pernah terbayangkan jika seseorang dapat mengirim pesan tanpa melalui kabel, saat itu hanya media kabel yang dapat menghubungkan perangkat komunikasi, baik komunikasi teks ataupun suara. Pemancar frekuensi radio saat itu juga masih dikuasai pihak-pihak tertentu, di Indonesia juga frekuensi 2,4 Ghz belum dibebaskan seperti sekarang. Sehingga saat itu mustahil bagi orang biasa untuk berkomunikasi secara nirkabel.

Sekarang, jaman teknologi maju, jaman Internet. Setiap orang dapat berkomunikasi secara cepat dan mudah melalui perangkat nirkabel yang terhubung ke hotspot. Sepertinya tidak ada lagi yang lebih keren daripada penemuan Wi-Fi di awal 2000-an. Namun ternyata, baru-baru ini Wi-Fi Alliance mengumumkan bahwa mereka akan memperkenalkan Wi-Fi Aware™: Discover the world nearby. Sebuah peningkatan kemampuan Wi-Fi yang selama ini kita kenal. Nantinya perangkat nirkabel akan melakukan pencarian informasi dan layanan sebelum melakukan hubungan komunikasi. Semuanya dilakukan secara seamless, nantinya smartphone akan terasa lebih cerdas, kita akan lebih mudah untuk menerima informasi ataupun membagikan informasi.

Tertarik? Bersabarlah hingga akhir 2015 ini.

Kita (masih) Perlu Belajar Menulis

Semester ini adalah semester pertama saya mulai membimbing mahasiswa menyusun laporan Kerja Praktek (KP). Jadi di kampus Universitas Semarang (USM), setiap mahasiswa harus melewati beberapa tahap dalam menempuh perkuliahan. Selain ada kuliah tatap muka, mahasiswa (terutama jurusan TI) akan diminta untuk melaksanakan KP di perusahaan untuk mengaplikasikan ilmunya, kemudian mereka membuat laporan dengan bantuan dosen pembimbing yang nantinya diseminarkan di jadwal yang telah ditentukan. Sepertinya terlihat sebagai tugas yang mudah, setidaknya itu yang saya bayangkan pertama kali.

Semester ini saya mendapatkan 24 mahasiswa bimbingan, dengan topik web development, networking, dan design analysist system. Mahasiswa ini pada dasarnya sudah mampu untuk membuat produk, lagipula untuk mahasiswa kelas sore, lokasi KP sebagian besar adalah kantor mereka sendiri. Namun, dari 24 mahasiswa ini hanya segelintir saja yang mampu untuk menulis dengan baik dan runtut sesuai dengan syarat sebuah karya ilmiah. Meskipun laporan KP sering dianggap mudah, namun bagi saya setiap laporan pekerjaan yang berhubungan dengan akademik, harus dikerjakan sesuai dengan jalur akademik, yaitu ilmiah.

Tantangan terbesar saya dalam membimbing mahasiswa ini justru bukan pada source code, tapi lebih ke tata cara penulisan, pemilihan kata, tanda baca, hingga ke hal-hal remeh seperti penomoran bab dan halaman. Selain itu juga mengarahkan mahasiswa untuk mampu menulis laporan mereka secara urut per-bab dengan menggunakan kalimat baku dan mampu untuk mempertanggungjawabkan tulisannya. Saya sering menyangsikan tulisan mereka karena ya nggak bisa ngasih sumber atau referensi yang mendukung. Sebagian besar masih berdasarkan “katanya”. Padahal yang namanya “katanya” tidak selalu benar.

Mengapa fenomena ini terjadi? Padahal mahasiswa ini adalah calon sarjana yang akan dituntut kemampuan analisisnya berdasarkan teori-teori yang ilmiah. Bukan seperti teman-teman SMK atau D3 yang memang ditargetkan untuk menguasai hal-hal aplikatif.

Banyak hal sebenarnya, tapi yang paling mencolok adalah karena malas membaca saja. Seperti yang saya sebutkan di postingan sebelumnya, kita sedang mengalami krisis membaca. Efeknya saya rasakan sekarang, dimana mahasiswa ini kurang mampu untuk menuangkan pikiran mereka ke tulisan. Ini terbukti ketika saya meminta penjelasan terhadap tulisan yang mereka ketik, langsung mereka bisa menjelaskan dengan verbal. Nah, kenapa itu nggak ditulis aja cah?

Saya memperhatikan publikasi yang diterbitkan oleh IEEE XPlore, akhir-akhir ini sebagian besar publikasi ilmiah terbaru justru mulai bergeser ke negara Tiongkok. Banyak sekali publikasi berkualitas yang dihasilkan dari sana, saya pikir memang karena pemerintah Tiongkok sedang mendorong industri negaranya supaya mampu bersaing secara global. Tentunya ini membutuhkan dukungan dari berbagai sektor, salah satunya adalah sektor akademisi. Penelitian-penelitian yang dipublikasikan sangat berguna bagi industri dalam negeri Tiongkok, sehingga tidak heran akhir-akhir ini banyak teknologi baru yang muncul dari Tiongkok.

Bagaimana dengan Indonesia? Nampaknya kita masih nyaman berposisi sebagai konsumen.

Profesi saya sekarang ini mewajibkan saya untuk membuat penelitian yang nantinya dipublikasikan. Disini saya rasakan betul betapa susahnya untuk meneliti, selain itu memang betul, menulis itu tidak mudah, apalagi tulisan ilmiah. Tapi hey, semuanya bisa dipelajari. Banyaklah membaca supaya mengerti, lalu tulislah untuk lebih memahami. Awali semuanya dengan membaca, selanjutnya menulislah untuk mengakhiri.

 

Membacalah Dari Sumber Yang Benar

Setahun yang lalu, saya pernah menulis mengenai keprihatinan terhadap minat baca di Indonesia yang rendah. Perpustakaan kampus hanya diisi oleh mahasiswa tingkat akhir dan orang pacaran. Alasannya, segala yang kita perlukan di perpustakaan sudah dapat ditemukan di Internet. Apakah itu benar? Menurut saya tidak juga.

Saya sudah mulai melarang mahasiswa untuk mengutip apapun dari website dalam menyusun tugas ataupun laporan Kerja Praktek, ini supaya mereka terbiasa hingga saat mulai menyusun Tugas Akhir. Saya memang belum mendapat kewenangan untuk membimbing tugas akhir, namun seperti yang saya tulis di postingan sebelumnya, tugas akhir merupakan pembuktian suatu kemampuan dalam menyandang sebuah gelar, sehingga harus dibiasakan mulai dari sekarang. Nah, jika bukan dari website dari mana lagi dong? Jawabannya sederhana, ambil dari buku. Bagaimana jika buku yang dicari nggak ada atau bahkan sudah melebihi 5 tahun? Barulah kita gunakan Internet untuk mencari referensi dari Jurnal Ilmiah yang online. Jadi bukan mengutip dari website abal-abal yang tidak jelas keilmuannya. Ya seperti website saya ini.

Di kampus, mata kuliah utama yang sering saya ajarkan adalah web development dengan berbagai tingkatan. Semua mahasiswa yang ikut mata kuliah saya akan mampu membuat website, karena itu adalah project akhir yang harus mereka kerjakan, tidak ada UAS bersama. Setiap pertemuan tatap muka, saya selalu menekankan bahwa konten website adalah hal terpenting dalam pembuatan website. Website yang nggak ada kontennya itu sama saja website yang gagal. Fungsi utama website adalah penyebaran informasi, jadi jika website nggak ada informasinya, maka website itu telah gagal. Selain itu, visitor hanya akan menghargai isi websitenya, mereka nggak akan peduli dengan tampilan atau teknologi di baliknya.

Nah, seperti yang saya sebut di awal tadi. Kita sedang mengalami krisis membaca, tidak hanya malas membaca tapi juga malas mencari bacaan yang berkualitas. Kita suka dengan yang gampang dan praktis, kecepatan Internet yang sudah lebih dari cukup bisa dijadikan alasan untuk mencari bahan bacaan dari Internet. Padahal, ada pepatah mengatakan “Jangan Percayai Apapun Dari Internet”.

Akhirnya, ketika seseorang ingin membuat portal berita yang ramai pengunjung, maka cukup dengan menuliskan berita yang bombastis, isi berita yang ngawur, kemudian dengan bantuan social media tinggal menggunakan fitur sharing dan akan tersebar ke semua perangkat smartphone. Kita, yang sudah terlanjur malas untuk mencari bahan bacaan, tinggal membuka linimasa media sosial dan menemukan tautan ke website yang berisikan tulisan absurd. Nah, karena nggak pengen dianggap kuper, maka dengan membaca singkat (fast-reading) lalu artikel itu disebarkan lagi melalui media sosial ke lingkaran pertemanannya. Akhirnya lagi, artikel yang dibuat dengan sembarangan itu telah tersebar begitu cepatnya.

Kebetulan semester ini saya juga mengajar Program Studi Ilmu Komunikasi dengan mata kuliah Strategi Media Sosial. Pada mata kuliah itu saya tunjukkan betapa penyebaran informasi melalui media sosial dapat dilakukan begitu cepatnya. Bahkan jika ingin persebarannya dilakukan secara terstruktur bisa dilakukan dengan beberapa metode untuk mendapatkan impact pada target audience yang diinginkan. Ini telah terbukti dengan kampanye-kampanye politik yang mulai merambah ke media sosial, betapa kita dapat terpecah belah hanya karena tulisan-tulisan di layar monitor.

Sekarang, musim politik sudah berakhir. Apakah fenomena ini telah berakhir? Nggak juga, saya lihat sekarang mulai bergeser ke isu agama. Sebuah bidang yang sangat sensitif untuk disenggol, apalagi Indonesia memperbolehkan agama resmi untuk berkembang selama tidak bergesekan dengan agama lain. Cukup membuat gesekan di dalam agama itu sendiri, maka api langsung membumbung tinggi tanpa dapat dikendalikan oleh Pemerintah. Tapi, dari mana asal-muasalnya? Coba deh, pasti nggak jauh-jauh dari bacaan di media sosial atau website abal-abal.

Ayo, mari. Coba untuk lebih kritis. Jangan telan mentah-mentah bacaan yang bersumber dari media sosial atau website. Jangan percayai apapun dari Internet. Internet memang memudahkan, tapi juga bisa menyesatkan.

Barang Boleh Palsu, Tapi Jangan Untuk Ilmu

Beberapa minggu terakhir ini muncul pemberitaan mengenai ijasah palsu. Sebetulnya meledaknya kasus ijasah palsu ini merupakan buntut dari terkuaknya praktek jual beli gelar yang diselenggarakan oleh salah satu kampus di Indonesia. Namun bila ditelisik lebih lanjut, praktek ini juga terjadi di berbagai negara. Penjualan gelar biasanya akan dilakukan dalam beberapa bentuk, ada yang hanya kuliah beberapa semester kemudian wisuda; ada kuliah jarak jauh yang (katanya) berafiliasi dengan kampus di luar negeri (supaya lebih meyakinkan) kemudian tau-tau wisuda; ada juga yang nggak pernah kuliah tapi tinggal datang pas wisuda.

Kampus yang menawarkan gelar dengan berbagai “kemudahan” memang mudah untuk menarik peminat, apalagi bagi calon mahasiswa yang sudah bekerja dan tidak memiliki waktu luang lebih dibandingkan dengan calon mahasiswa yang baru saja lulus sekolah. Namun sebaiknya perlu diperhatikan, apakah “kemudahan” yang ditawarkan terasa masuk akal atau tidak? Untuk mendapatkan gelar Sarjana dengan kurikulum terbaru, mahasiswa harus menempuh 145 sks yang minimal akan ditempuh dalam 8 semester (4 tahun). Selain itu mahasiswa juga harus mengikuti kegiatan pengabdian ke masyarakat seperti KKN atau PKL sebelum nantinya mahasiswa mengerjakan penelitian yang disebut dengan Skripsi. Hal ini sesuai dengan tujuan setiap kampus yaitu Tridharma Perguruan Tinggi (Pengajaran, Penelitian, dan Pengabdian Kepada Masyarakat).

Kuliah dengan lulus cepat memang membanggakan, namun apabila terlalu cepat maka harus dipertanyakan. Apakah masuk akal jika kuliah S1 hanya 2 tahun? Kalau jenjang S2 sih wajar. Sehingga jika mendapatkan gelar Sarjana dalam 2 tahun atau bahkan kurang, mahasiswa tersebut tentu tidak mengikuti berbagai persyaratan. Buntutnya, kampus pemberi gelar dapat dicurigai sebagai kampus abal-abal. Bila sudah begitu, artinya ijasah yang dikeluarkan menjadi tidak sah, lulusan tidak diakui, yang rugi ya mahasiswanya sendiri.

Selain praktek jual beli gelar, yang marak terjadi juga adalah praktek jual beli tugas akhir (Skripsi, Thesis, dan Disertasi). Ini juga memprihatinkan, karena menurut saya tidak ada kebanggaan yang bisa diperoleh bila wisuda dengan tugas akhir palsu. Motif membeli tugas akhir memang bermacam-macam, yang paling sering adalah karena “nggak tau mau bikin apa”. Padahal tugas akhir merupakan cara pembuktian keilmuan seseorang sebelum orang tersebut layak menyandang gelar. Tingkat kesulitan dari setiap tugas akhir juga berbeda, tujuan dan cakupan penelitian juga akan berbeda.

Menurut saya, berikut ini perbedaan tugas akhir di berbagai jenjang pendidikan :

  • D3 = Mampu membuat sesuatu
  • S1 = Mampu membuat dengan membuktikan metode tertentu
  • S2 = Mampu membuktikan dan memberi pembaruan metode tertentu
  • S3 = Mampu memberi pembaruan atau menemukan metode baru

Nah, apa yang terjadi bila tugas akhir itu dibuatkan orang lain? Tentu wisudawan tidak akan memiliki kemampuan tersebut, akhirnya gelarnya juga hanya sekedar gelar yang tidak mampu bersaing di dunia kerja. Misalnya wisudawan tersebut kemudian tidak bisa mendapatkan kerja walaupun IPK tinggi, siapa yang disalahkan?

IPK tinggi dan lulus dari kampus elite bukan jaminan untuk mendapatkan kerja. IPK itu merupakan akumulasi nilai yang didapatkan selama kuliah, kampus elite merupakan tempat belajar, tapi Tugas Akhir merupakan pembuktian bahwa kita layak untuk menyandang gelar itu seumur hidup.