Prolink PCM100

 

Prolink PCM100

Semenjak masuknya produk Internet EVDO di Semarang, saya langsung tertarik untuk mencobanya. Kebetulan saya sudah pernah mencoba hampir semua produk Internet yang ada di Semarang, mulai dari kabel hingga yang mobile. Makanya begitu ada produk EVDO langsung nyobain dong.

Masalahnya adalah saat itu modem yang tersedia di pasaran sangat terbatas, kebanyakan pada ngejual modem GSM/HSDPA atau CDMA1x yang tentunya gak bisa digunakan untuk koneksi EVDO. Sedangkan penyedia saat itu baru SMART baru kemudian disusul oleh AHA selalu menjual produknya dengan sistem bundling modem, jadi kalo misalnya mau ganti kartu jadi susah dong.

Saya sempet punya modem ZTE AC2726 bawaan Smartfren yang sangat tangguh di berbagai kondisi, mau dipanteng 24 jam pun gak masalah. Sayangnya kualitas modem yang tangguh ini gak diimbangi dengan kualitas koneksi Smart yang makin lama makin memprihatinkan.

Masalah datang ketika mau pindah ke AHA. Ternyata frekuensi yang digunakan antara 2 operator itu berbeda. Parahnya lagi ZTE AC2726 sifatnya singleband, yang artinya gak bakaln bisa dipasangi kartu AHA. Wah alamat harus beli modem lagi.

Untunglah, kemudian dapet pencerahan bahwa ada  modem yang tangguh, namanya Prolink PCM100. Modem EVDO Rev. A ini bisa dipasang berbagai operator, trus udah ada template koneksinya, jadinya gak perlu terlalu banyak setting.

pcm100

 

Setelah dicoba, modem ini tangguh juga. Yang terpenting adalah Tahan Panas! Katanya sih kemampuan menangkap sinyal lebih baik daripada modem sejenis. Saya sih blom nyoba, karena kebetulan rumah dan kantor berada di area sinyal AHA, tapi yang saya perhatikan sih jumlah bar sinyal selalu penuh.

Untuk modelnya yang saya punya, itu adalah model yang jadul. Untuk sekarang modelnya lebih slim dan cantik lah. Jadi kalo misalnya pas nyari ternyata gambarnya beda dengan punya saya, memang begitulah adanya.

TEAM Micro SDHC 8GB – Class 10 + Card Reader

Selama beberapa tahun terakhir ini, untuk keperluan penyimpanan data saya percayakan kepada flashdisk Kingston 2GB. Disitu semua data-data penting baik data pribadi ataupun untuk keperluan ngajar ada disana. Performa yang cukup bagus dan keawetan yang membuat saya belom berpikir untuk menggantinya dengan yang baru.

Trus masalah datang ketika ternyata kapasitas 2GB udah nggak cukup untuk menampung semua data-data. Kebetulan Mizan (@_mizan) pernah cerita tentang MicroSD yang bisa dijadiin flashdisk karena dijual sepaket sama card readernya, ya udah langsung meluncur ke Bhinneka untuk nyari. Hasilnya ada!

Bhinneka menjual TEAM Micro SDHC 8GB – Class 10 + Card Reader seharga 163rb. Setelah menunggu beberapa hari, barangnya pun tiba. Ternyata barangnya kecil byanget! Hahaha namanya juga MicroSD.

Setelah bongkar dan pasang, saatnya mencoba kemampuannya. Ternyata tidak mengecewakan, mungkin juga karena ada embel-embel Class 10 yang katanya untuk masalah read/write lebih cepat. Untuk percobaan copy file 100mb bisa mendapatkan bandwidth 16MB/s. Setara dengan flashdisk lah..

Masalah timbul untuk penyimpanan. Dengan ukuran sekecil itu tentu udah ga bisa dimasukin kantong lagi. Setelah beberapa kali mencari spot, mulai dari dicantelin ke sabuk, ditelen, atau ditindik di kuping, Akhirnya si MicroSD ini tak simpen di dompet.