Rumah Dara

Akhirnya dunia perfilman Indonesia mulai beranjak dari tema-tema hantu yang membosankan. Walaupun dalam waktu dekat ini masih akan muncul film hantu seperti Setan Datang Bulan yang diperankan sama Trio Macan, tapi sepertinya film Rumah Dara yang baru saja tayang 22 Januari 2010 yang lalu ini bisa mengobati dahaga pecinta film Indonesia.

Saya akhirnya berkesempatan untuk nonton Rumah Dara sama adekku di Studio 21 Ambarukmo Plaza Yogyakarta. Ini merupakan pengalaman pertama saya nonton di bioskop ini, biasanya saya nonton di Empire XXI Jogja, tapi entah kenapa disana Rumah Dara malah belum tayang. Walaupun ruangannya lebih sempit dan layar yang lebih kecil daripada Empire XXI, tapi tidak mengganggu kenikmatan untuk menonton.

Berbagai review tentang film ini pasti sudah banyak ditemukan di berbagai media, jadi postingan ini cuma review tentang film ini aja ya. Kebetulan tema slasher merupakan salah satu favorit saya..

Hmm.. awalnya cerita dari Rumah Dara ini akan mirip-mirip dengan Hostel atau Saw, tapi ternyata tidak. Karena memang film ini menurut saya nggak punya jalan cerita sama sekali. Film sudah dimulai dengan adegan di cafe yang ternyata berada di luar Jakarta, alasannya karena Ladya bekerja disana. Ladya adalah adik dari Adjie yang sudah lama tidak akur selepas orang tua mereka meninggal. Adjie, Astrid (istri), Alam, Jimmy, dan Eko beramai-ramai main kesana. Hebat juga Astrid yang sudah hamil 8 bulan bisa ikutan jeng-jeng.

Oh iya, di cafe ini sayangnya ada adegan klasik.. Yaitu berantem khas film Indonesia. Awalnya Ladya diganggu sama tamu (Ladya bekerja sebagai waiters), kemudian datang Alam yang membela. Ditantang berantem ga ada yang brani, nah pas Alam balik badan, salah satu dari tamu itu mukulin botol ke kepala Alam sampe bocor.

Adegan diatas itu hanya pembuka, karena inti filmnya pada saat mereka sudah sampai di Rumah Dara. Disitu mereka dibunuh satu-persatu dengan cara yang sadis. Karena ini filmnya bertema slasher, pasti cara membunuhnya tidak normal. Tapi jangan dibayangkan seseram Hostel atau Saw ya.. kalau udah pernah nonton 2 film itu, saya jamin Rumah Dara tidak terlalu sadis, tapi cukup bikin meringis.

Nah, yang saya maksud film ini nggak punya cerita adalah karena tidak ada penjelasan tentang Rumah Dara itu sendiri. Tidak jelas kenapa mereka bisa hidup dari tahun 1900-an tanpa terlihat tua sedikitpun, lalu komoditi daging itu juga tidak terlalu jelas digambarkan, akhirnya ya film ini cuma berisi adegan tujah-tujah saja. Itupun juga nggak dijelasin kenapa mereka melakukan itu. Apakah hanya untuk dijual? apa untuk persembahan? atau hanya hobi semata?

Oh iya, ada adegan yang menurut saya cukup mengganggu, yaitu pada saat satu unit reserse kepolisian setempat datang ke rumah itu. Saya tidak mempermasalahkan akting mereka, tapi kenapa harus ada Aming? Hehehe.. *kidding* Aming sih nggak masalah, tapi yang saya rasa agak mengganggu adalah pas adegan tembak-tembakan.

The Mo Brothers udah berhasil membuat efek sayatan, darah, daging tercabik, dll. Tapi kenapa pas adegan tembak-tembakan jadi terasa janggal? Ketika Maya ditembak dengan senapan (entah itu M16 atau Shotgun) kenapa kepalanya nggak dipecahin sekalian? Malah cuma ninggalin bekas luka di jidat, itupun nggak langsung mati, masih bisa ngasih salam perpisahan sama Dara. Sayang banget! Trus efek yang keluar dari moncong senjata juga berlebihan, mbok ya dibikin yang biasa aja tapi realistis. Sayang banget, padahal efek yang lain udah sip.

Oh iya.. sayangnya lagi film ini udah kena sensor. Jadi mungkin kenikmatan pecinta film slasher bakal terganggu. Ya! saya merasa terganggu dengan sensor itu! Hohohoho… Padahal ada adegan kepala Alam yang ngglundung, dan saya yakin pasti bikinnya keren sekali.

Overall, film ini cocok bagi Anda yang pengen suasana lain selain film setan nggak jelas. Nggak ada adegan mesum, nggak ada dialog yang mbosenin, semuanya ngalir ala film slasher (dialog dikit banyak aksi). Oh iya, sebaiknya jangan bawa jajan banyak-banyak kalau pas nonton, kemungkinan nggak doyan makan, sayang khan duitnya?

Undangan RoTIFreSh Jan’10: Just Click and The World Will Open to You

Akhirnya RoTIFreSh edisi Januari 2010 siap untuk digelar. Di tahun 2009, kita melihat pertumbuhan social media secara exponensial, bukan lagi linier. Secara Global, menurut penelitian Nielsen Online, twitter tumbuh 1,382 % selama kurun waktu februari 2009. Facebook mencetak banyak rekor fantastis: Jumlah member lebih dari 350jt, menerima kiriman foto lebih dari 1 Milyar per minggu, dll. Di Indonesia, penggunaan social media juga terus meningkat.

Selain itu makin banyak perusahaan di Indonesia yang menggunakan social media sebagai marketing tools. Acer, Coca Cola, Pepsi, Starbuck dll kini memanfaatkan teknologi ini sebagai salah satu marketing tools.

Berkaca pada fakta-fakta diatas, maka acara RoTIFreSh edisi  Januari 2010 akan membahas topik tentang fenomena pemanfaatan Social Media di Indonesia. Pembahasan akan lebih di fokuskan pada aktifitas penggunaan Social Media di tahun 2009 dan Outlook selama kurun waktu 2010 dengan menghadirkan pakar-pakar dalam marketing online untuk membahas tren yang akan terjadi di 2010.

Just Click

Dunia semakin mengglobal, Free Trade Agreement Asean-China sudah tertandatangani. Akankah kita tetap disini? Ataukah kita akan ikut tergabung didalamnya? Just Click and The World Will Open to You

RoTIFreSh kali ini akan membahas mengenai prediksi-prediksi dunia online 2010 yang dapat dimanfaatkan untuk menunjang bisnis dan peluang bisnis baru.

RoTIFreSh edisi Januari 2010 akan diselenggarakan pada

Hari / Tanggal : Jumat, 22 Januari 2010
Pukul                   : 14.00 – 17.30
Tempat               : Hotel Santika Premiere Semarang
HTM                    : Rp.100.000 (early bird s/d 18 Januari Rp.75.000)
Mahasiswa Diskon 50%

Pembicara :

  • Nukman Luthfie (Pakar Marketing dan PR Online Social Media)
  • Dwi Hermawanto alias Pogung177 ( SEO Expert, 3rd Winner World Championship 2008) * dalam konfirmasi

Fasilitas :

  • Door Prize
  • Coffee Break

Tempat Terbatas Cepat Mendaftar yah.

Untuk Informasi dan Reservasi Tempat :
Didut (081 565 67080 – 024 700 52 579)
Ferdian (081 665 6949)